PALEMBANG — Kondisi udara di Kota Palembang memburuk seiring kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan yang terus berlangsung. Laporan BMKG pada Rabu (14/10) mencatat konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 menembus 514,7 mikrogram per meter kubik. Angka itu jauh di atas ambang batas udara bersih yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia.
Praktisi kesehatan menyebut paparan PM2.5 pada level tersebut bisa memicu iritasi saluran pernapasan dalam hitungan jam. Keluhan senada datang dari warga yang merasakan langsung dampaknya di ruang terbuka.
Jembatan Ampera Jadi Patokan: Kota Tak Terlihat dari Atas
Zainuddin Wahid, warga Kota Palembang, menggambarkan tebalnya asap yang menutup pandangan kota. Dari titik pandang di Jembatan Ampera, hamparan bangunan Palembang tidak lagi terlihat.
“Bila dilihat dari atas Jembatan Ampera, Kota Palembang tidak nampak, hanya kabut asap yang menyelimutinya,” kata Zainuddin.
Dampak pada tubuh dirasakan Zainuddin dan warga lain. Mata pedih, jarak pandang menyusut, dan dada terasa sesak jadi keluhan harian sejak asap pekat menyelimuti kota.
“Warga semakin susah, mata pedih, jarak pandang yang terbatas, dada yang sesak karena kotornya udara yang dihirup,” ujarnya.
Prakiraan BMKG: Panas dan Berasap Masih Berlanjut
BMKG memprakirakan cuaca panas dan berasap masih membayangi sejumlah wilayah Sumatera Selatan pada Kamis (15/10). Kondisi ini memperpanjang risiko paparan partikulat bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Kabut asap tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga mobilitas. Jarak pandang yang pendek meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara di jalan raya dan menghambat penerbangan dari dan menuju Palembang.
Warga Kritik Respons Pemerintah: Hadiah Pelapor Dinilai Belum Selesaikan Persoalan
Zainuddin menyoroti langkah pemerintah dalam menangani karhutla. Menurutnya, pemberian hadiah bagi warga yang melaporkan kasus pembakaran lahan tidak menyentuh akar masalah.
“Sementara pihak pemerintah justru hanya bisa memberikan hadiah bagi siapa saja yang melaporkan kasus pembakaran lahan. Tidak ada solusi yang baik,” ungkapnya.
Ia menilai persoalan kabut asap butuh penanganan yang lebih serius, mulai dari penegakan hukum terhadap pembakar lahan hingga kesiapan layanan kesehatan bagi warga terdampak.
Keluhan Warga dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Zainuddin juga menyampaikan keresahannya dari sudut pandang keagamaan. Ia mempertanyakan mengapa bencana kabut asap terus berulang di kota yang dikenal religius itu.
“Bahkan mungkin doa yang dilantunkan oleh orang-orang saleh di kota ini, Allah belum menjawabnya. Apakah ini teguran atau azab, wallahu a’lam,” tuturnya.
Bagi warga Palembang, yang paling mendesak adalah udara yang bisa dihirup tanpa rasa sesak. Hingga prakiraan cuaca berikutnya keluar, masker dan aktivitas di dalam ruangan jadi pilihan paling aman.