SUMATERA SELATAN — Bohlam pintar kini makin mudah ditemukan di pasar Indonesia, mulai dari merek TP-Link Tapo hingga Philips Hue. Daya tarik utamanya jelas: nyalakan atau matikan lampu lewat ponsel, atur jadwal nyala otomatis, atau cukup teriak ke asisten virtual. Tapi di balik kemudahan itu, banyak calon pembeli bertanya: apa lampu ini lebih boros listrik?
Konsumsi Listrik: Nol vs Selalu Nyala
Jawaban singkatnya: iya, lampu pintar tetap "minum" listrik walau sedang tidak memancarkan cahaya. Sebuah studi di jurnal ScienceDirect pada 2019 menguji 30 bohlam LED pintar dan menemukan 21 di antaranya punya konsumsi siaga di bawah 0,5 watt — masih dalam batas sertifikasi Energy Star.
LED biasa tidak menarik daya sama sekali saat dimatikan lewat saklar dinding. Sebaliknya, lampu pintar harus tetap terhubung ke Wi-Fi atau hub, sehingga komponen komunikasinya terus aktif. Angkanya kecil: TP-Link Tapo misalnya mengklaim hanya 0,2 watt dalam mode siaga, sementara Philips Hue menyebut produk terbarunya di bawah 0,5 watt.
Berapa Rupiah Tambahannya?
Dengan asumsi tarif listrik rumah tangga di Indonesia sekitar Rp 1.500 per kWh, satu bohlam pintar yang menyala 24 jam sehari dalam mode siaga hanya menambah Rp 5.500 hingga Rp 20.500 per tahun. Untuk sebagian besar rumah tangga, angka ini hampir tidak terasa di tagihan bulanan.
Departemen Energi AS mencatat perangkat dalam mode siaga menyumbang 5-10 persen total konsumsi listrik rumah. Namun penyedot daya terbesar justru microwave, televisi, router, dan komputer — bukan bohlam pintar.
Fitur yang Bisa Balik Modal
Justru di sinilah letak potensi penghematan. Lampu pintar bisa diatur mati otomatis saat tidak ada orang di ruangan, atau diredupkan di malam hari. Semakin sedikit waktu menyala, semakin rendah tagihan. Fitur peredupan juga menurunkan konsumsi listrik secara proporsional.
Bila Anda tipe orang yang sering lupa mematikan lampu kamar mandi atau lampu teras, bohlam pintar bisa menghemat lebih banyak daripada biaya siaga tahunannya. Efeknya akan terasa semakin besar jika dipasang di banyak titik sekaligus.
Harga Beli: Selisih 2-10 Kali Lipat
Kendala utama bukan di listrik, melainkan di harga awal. LED biasa bisa didapatkan mulai Rp 25.000 hingga Rp 65.000 per bohlam, bahkan lebih murah jika beli paket. Lampu pintar termurah dari IKEA dibanderol sekitar Rp 95.000, sementara rata-rata harga pasar Rp 125.000 hingga Rp 240.000 per unit. Philips Hue varian termahal bisa mencapai Rp 1,4 juta.
Paket bundling beberapa bohlam biasanya lebih ekonomis. Namun tetap, investasi awal ini yang perlu dihitung matang sebelum memutuskan mengganti seluruh lampu rumah.
Umur Pakai: Sedikit Lebih Pendek
LED biasa diklaim tahan 20-40 tahun, sementara lampu pintar rata-rata 15-25 tahun. Komponen tambahan seperti modul Wi-Fi dan prosesor memang punya risiko lebih cepat aus. Tapi lagi-lagi, kontrol yang lebih baik — lampu jarang menyala penuh atau menyala terlalu lama — bisa memperpanjang umur efektif di dunia nyata.
Kesimpulannya, bohlam pintar tidak semahal yang dikhawatirkan dari sisi listrik. Tambahan biaya tahunan sangat kecil. Keputusan beli lebih bergantung pada kesediaan membayar lebih di awal demi kemudahan kontrol dan potensi penghematan dari kebiasaan pemakaian yang lebih efisien.