PALEMBANG — Ratusan pelajar SMA dan SMK di Kota Palembang mendapat pembekalan khusus untuk menangkal propaganda ekstremisme di dunia digital. Kegiatan ini digagas oleh Satgaswil Sumsel bersama Badan Kesbangpol Provinsi Sumsel sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman radikalisme yang menyasar generasi muda.
Ketua Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel, IPDA Fachrurozi, mengungkapkan bahwa penyebaran paham radikal kini menggunakan taktik baru. Media sosial, situs web, hingga platform game online yang digandrungi remaja menjadi celah masuk yang perlu diwaspadai.
"Keterlibatan generasi muda dalam radikalisme harus kita cegah sejak dini. Kenali, lawan, dan laporkan jika menemukan konten yang mencurigakan," tegasnya saat menjadi pemateri dalam dialog interaktif tersebut, Jumat.
Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sumsel Arinarsa Jaya Surya menekankan pentingnya literasi digital bagi pelajar. Menurutnya, media sosial bukanlah tempat untuk menyebar kebencian, melainkan ruang berekspresi yang positif.
"Anak-anak harus cerdas memilih konten. Jadikan media sosial sebagai ruang untuk karya yang inspiratif, bukan untuk menyebar kebencian," ujar Arinarsa.
Ia juga mendorong penguatan edukasi di lingkungan sekolah serta kolaborasi aktif antara guru, orang tua, dan aparat dalam memonitor aktivitas digital anak. Hal ini dinilai penting untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif.
Dalam paparannya, IPDA Fachrurozi juga mengingatkan para siswa mengenai tantangan menjaga Pancasila. Ia menjelaskan bahaya konsep penyebaran radikalisme, termasuk teori proses terorisme yang dikenal dengan IRET.
Melalui dialog interaktif ini, Satgaswil Sumsel berharap para pelajar di Sumatera Selatan dapat menjadi pelopor digital yang bijak. Mereka diharapkan mampu membentengi diri dan lingkungan sekolah dari ancaman intoleransi dan radikalisme.