SUMATERA SELATAN — KAI mencatat mayoritas barang terlupa adalah kategori biasa—sebanyak 9.165 item—meliputi tas, pakaian, botol minum, payung, hingga buku. Sisanya, 622 unit berupa makanan. Namun, 2.869 barang berharga menyita perhatian karena memiliki nilai ekonomi dan fungsi vital bagi pemiliknya.
“Satu barang yang tertinggal bisa memiliki nilai ekonomi, fungsi penting, maupun nilai pribadi yang sulit digantikan,” ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangan resmi, Minggu (12/7/2026).
Secara geografis, Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya menjadi wilayah dengan temuan terbanyak: 3.050 barang. Disusul Daop 1 Jakarta (2.611 barang), Daop 5 Purwokerto (1.952 barang), Daop 2 Bandung (1.479 barang), dan Daop 4 Semarang (1.284 barang).
Pola ini menunjukkan stasiun besar di koridor utama dan kota transit menjadi titik rawan barang tertinggal. Petugas di lapangan langsung mengamankan setiap temuan, mencatat ciri-ciri secara rinci, dan mengumumkannya melalui pengeras suara di stasiun.
KAI mengklaim layanan Lost and Found ini tidak dipungut biaya. Prosesnya dimulai saat penumpang sadar kehilangan: langsung melapor ke kondektur, petugas keamanan, atau Customer Service on Train selama perjalanan. Setelah tiba di stasiun, laporan bisa disampaikan ke Customer Service on Station atau menghubungi Contact Center KAI 121.
Anne menekankan kecepatan respons dan kemudahan akses informasi menjadi kunci pengalaman pelanggan. “Semakin cepat laporan disampaikan, semakin besar peluang barang dapat ditemukan,” katanya.
Agar pencocokan berjalan mulus, penumpang diminta menyebutkan ciri-ciri barang secara detail: tanggal perjalanan, nama kereta, nomor tempat duduk, kode booking, hingga lokasi terakhir barang terlihat. Petugas kemudian mencocokkan data tersebut dengan barang temuan yang sudah didokumentasikan dalam sistem.
KAI mengimbau penumpang menyimpan barang berharga di tempat yang mudah diawasi. Beri label nama atau nomor kontak pada tas dan koper. Sebelum turun, luangkan waktu mengecek rak bagasi, area kursi, meja lipat, stopkontak, kantong kursi, dan bagian bawah tempat duduk.
“Bagi pelanggan, barang tertinggal bisa mengganggu kelanjutan perjalanan, aktivitas pekerjaan, hingga akses dokumen penting,” pungkas Anne.
Sepanjang 2026, KAI menargetkan peningkatan kualitas layanan Lost and Found sebagai bagian dari customer experience yang aman dan terpercaya. Upaya ini masih perlu diimbangi edukasi penumpang agar lebih teliti sebelum meninggalkan gerbong.