PALEMBANG — Limbah wearpack bekas yang biasanya berakhir di tempat pembuangan, kini justru menjadi sumber penghidupan baru bagi delapan ibu rumah tangga di Desa Banu Ayu, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Melalui Program Gelora Banu Ayu yang digagas Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), mereka mengolah kain bekas menjadi produk bernilai jual.
Kelompok Konveksi Bumi Ayu yang resmi berdiri pada 11 Mei 2026 ini mengolah wearpack bekas operasional, kain perca, dan sisa bahan konveksi menjadi keset, celemek, bantal kursi, lap anti panas, tatakan wajan, hingga bantal tidur. Pendekatan yang digunakan adalah upcycling, yaitu mengolah material bekas menjadi produk baru dengan nilai guna dan nilai jual yang lebih tinggi.
Sebelum program ini hadir, para anggota kelompok hanya menerima jasa jahit dalam skala kecil atau bahkan belum memiliki pekerjaan tetap. Selama proses pendampingan, mereka mengikuti enam kali pelatihan yang mencakup teknik menjahit, pembuatan pola, desain produk, quality control, branding, pembukuan, hingga manajemen usaha sederhana.
Kini, sekitar 300 produk telah dihasilkan dan dipasarkan melalui WhatsApp, promosi dari mulut ke mulut, serta berbagai bazar UMKM di Kabupaten OKU. Produk yang paling diminati masyarakat antara lain keset, celemek, bantal kursi, dan lap anti panas karena fungsional dan harganya terjangkau.
Dalam dua bulan terakhir, kelompok berhasil memanfaatkan sekitar 30 kilogram limbah tekstil, terdiri atas 10,3 kilogram wearpack bekas dan 18-20 kilogram kain perca. Dari hasil produksi tersebut, omzet yang dibukukan mencapai lebih dari Rp 10 juta dengan rata-rata pendapatan anggota sekitar Rp 1,5 juta per orang.
Ketua Kelompok Konveksi Bumi Ayu, Evi Widia, mengatakan program tersebut mengubah cara pandang anggotanya terhadap barang bekas.
"Dulu kami menganggap wearpack bekas tidak lagi berguna. Sekarang kami tahu, dengan kreativitas dan kemauan belajar, limbah bisa menjadi produk yang diminati sekaligus menambah penghasilan keluarga," ujar Evi.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan Program Gelora Banu Ayu menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.
"Kami ingin masyarakat melihat bahwa barang yang tidak lagi digunakan masih memiliki nilai ketika diolah dengan kreativitas. Melalui program ini, kami tidak hanya membuka peluang usaha bagi perempuan, tetapi juga mendorong tumbuhnya praktik ekonomi sirkular yang memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan," ujar Rusminto.
Program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 5 (Kesetaraan Gender), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).