PALEMBANG — Digitalisasi bukan lagi sekadar wacana di Palembang. Sektor pariwisata dan UMKM di kota yang dikenal dengan Jembatan Ampera dan kuliner pempek ini kini diarahkan untuk bertransformasi ke ranah digital secara masif. Pemkot Palembang menyebut program ini sebagai strategi utama untuk memulihkan ekonomi lokal dan meningkatkan kunjungan wisatawan.
Pemkot Palembang menargetkan sedikitnya 1.000 pelaku UMKM dan pengelola destinasi wisata dapat bergabung ke dalam ekosistem digital pada tahun ini. Target tersebut mencakup pelaku usaha di sektor kuliner, kerajinan, hingga pengelola hotel dan homestay kecil.
Digitalisasi ini diharapkan memudahkan wisatawan untuk mengakses informasi, melakukan pemesanan, hingga bertransaksi secara langsung. “Kami ingin UMKM dan destinasi wisata di Palembang tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga bisa diakses oleh wisatawan dari luar daerah bahkan mancanegara melalui platform digital,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palembang.
Program digitalisasi pariwisata ini tidak hanya sebatas pembuatan website atau akun media sosial. Pemkot juga mendorong penggunaan sistem pembayaran non-tunai atau cashless di destinasi wisata dan pusat oleh-oleh. Langkah ini dinilai penting untuk mengikuti tren wisatawan modern yang lebih nyaman bertransaksi secara digital.
Selain itu, pelaku UMKM akan dibekali pelatihan pemasaran digital, mulai dari fotografi produk, pengelolaan toko online, hingga strategi konten di media sosial. Pelatihan ini digelar secara bertahap bekerja sama dengan platform e-commerce dan perbankan.
Dampak paling nyata dari digitalisasi ini adalah kemudahan akses bagi wisatawan. Calon pengunjung kini bisa mencari informasi paket wisata, harga tiket masuk destinasi, hingga menu kuliner khas Palembang hanya melalui gawai. Bagi warga lokal yang berprofesi sebagai pelaku UMKM, digitalisasi membuka peluang pasar yang lebih luas tanpa harus memiliki toko fisik di pusat kota.
“Dulu kami hanya mengandalkan pembeli yang lewat. Sekarang, pesanan bisa datang dari luar kota setelah mereka lihat Instagram kami. Omzet naik sekitar 30 persen,” kata seorang pelaku UMKM kuliner di kawasan Benteng Kuto Besak.
Pemkot Palembang telah memulai proses pendataan dan pelatihan sejak awal tahun. Tahap pertama menyasar 300 pelaku usaha di kawasan wisata utama seperti Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan Pulau Kemaro. Selanjutnya, program akan diperluas ke 16 kecamatan di Palembang secara bertahap hingga akhir tahun.
Pemkot juga menggandeng operator telekomunikasi untuk memastikan kualitas jaringan internet di titik-titik wisata strategis. Koneksi yang stabil menjadi syarat mutlak agar sistem pemesanan dan pembayaran digital bisa berjalan lancar.
Pemkot tidak menutup mata terhadap pelaku usaha yang masih gagap teknologi. Dalam setiap sesi pelatihan, pendampingan dilakukan secara personal. Relawan teknologi digital (TIK) dari kalangan mahasiswa dan komunitas startup lokal diterjunkan untuk membantu para pedagang pasar tradisional dan pengelola homestay.
“Kami tidak ingin digitalisasi justru meninggalkan mereka yang belum siap. Semua didampingi, dari nol sampai bisa mengelola toko online sendiri,” tegas Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palembang.