SUMATERA SELATAN — Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dari biasanya. Data BMKG menunjukkan indeks IOD dasarian berada di angka +0,457, sementara nilai SSTA di region Nino3,4 mencapai +2,77—indikator El Nino dengan intensitas sangat kuat yang memperparah kondisi kekeringan.
Delapan Provinsi Masuk Status Awas
Pemetaan BMKG membagi peringatan kekeringan ke dalam tiga kategori: Waspada, Siaga, dan Awas. Wilayah dengan status Awas berarti memiliki tingkat keparahan tertinggi dan membutuhkan kewaspadaan ekstra terhadap risiko gagal panen serta krisis air bersih.
Berdasarkan monitoring Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia (535 ZOM) telah memasuki musim kemarau. Sekitar 48,84 persen daratan Indonesia diprediksi mencapai puncak kemarau pada bulan ini.
NTB Paling Parah, Hari Tanpa Hujan Capai 84 Hari
Salah satu wilayah terdampak terparah adalah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Data BMKG mencatat hari tanpa hujan di kabupaten ini sudah mencapai 84 hari atau hampir tiga bulan lamanya.
"Kecamatan Belo dan Kecamatan Bolo di Kabupaten Bima menempati daerah paling lama tanpa hujan," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini, melansir Antara.
Pada Dasarian I Agustus 2026, curah hujan di NTB secara umum didominasi kategori rendah dengan kisaran 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi hanya tercatat di Pos Hujan Kokok Putih, Sembalun, sebesar 47 milimeter per dasarian—jumlah yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan air permukaan.
90 Persen Wilayah Indonesia Alami Curah Hujan Rendah
Data agregat BMKG menunjukkan distribusi curah hujan pada Dasarian I Agustus 2026 sangat timpang. Sebanyak 90,79 persen wilayah mencatat curah hujan dengan kriteria rendah, sementara hanya 8,28 persen yang masuk kategori menengah dan 0,93 persen kategori tinggi.
Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut. BMKG memproyeksikan cuaca kering bertahan beberapa pekan ke depan seiring masuknya puncak musim kemarau yang bertepatan dengan penguatan El Nino.
Dampak dan Implikasi untuk Sektor Bisnis
Kekeringan ekstrem membawa konsekuensi luas, terutama bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan. Pelaku bisnis yang bergantung pada pasokan komoditas dari daerah terdampak perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga bahan pokok.
Untuk warga di wilayah berstatus Awas, BMKG mengimbau penghematan penggunaan air bersih dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah daerah di delapan provinsi terdampak diminta menyiapkan langkah mitigasi, termasuk distribusi air bersih ke titik-titik rawan kekeringan.