MUBA — Titik api di Desa Karang Agung, Kecamatan Lalan, menjadi perhatian utama karena lahan gambut yang terbakar seluas 9 hektare masih menyisakan proses pemadaman yang rumit. Hingga Minggu kemarin, tim baru berhasil memadamkan 6,25 hektare dari total area yang terbakar.
"Total luasan yang dipadamkan sampai hari Minggu kemarin mencapai 6,25. Tim masih terus mencoba untuk memadamkan api sampai benar-benar padam," kata Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto, Senin (10/8/2026).
Empat Titik Api Tersebar di Tiga Kecamatan
Selain Karang Agung, kebakaran juga melanda sejumlah wilayah lain di Muba. Di Dusun IX Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, lahan seluas 4 hektare ikut terbakar. Sementara itu, Kelurahan Bayung Lencir Indah di kecamatan yang sama mencatatkan kebakaran seluas 1 hektare.
Desa Sukarami, Kecamatan Sekayu, juga tidak luput dari si jago merah dengan luas lahan terbakar mencapai 4 hektare. Penyebaran titik api yang berada di beberapa lokasi sekaligus ini membuat upaya pemadaman harus dilakukan secara paralel.
Karakter Gambut Dalam Membuat Api Sulit Dipadamkan
Ferdian menjelaskan, lahan yang terbakar di Desa Karang Agung berstatus Area Penggunaan Lain (APL). Kondisi tanah di lokasi tersebut merupakan gambut dalam yang memiliki karakteristik sulit dipadamkan karena api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan bawah tanah.
"Tipe kebakaran di lokasi ini terbakar di atas permukaan dan bawah, sehingga pemadaman cukup memakan waktu," ujarnya.
Faktor lain yang mempercepat meluasnya api adalah banyaknya semak belukar dan pohon gelam di sekitar lokasi. Material tersebut menjadi bahan bakar alami yang membuat api cepat menjalar ke area yang lebih luas.
Satu Regu Manggala Agni Masih Disiagakan di Lokasi
Hingga saat ini, tim gabungan Manggala Agni masih melakukan penyisiran di lokasi kebakaran untuk memadamkan titik api yang terus bermunculan. Upaya ini dilakukan untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali menyala setelah tim meninggalkan lokasi.
"Satu regu sekarang masih berupaya untuk memadamkan api," jelas Ferdian.
Karhutla di wilayah Sumatera Selatan memang kerap menjadi persoalan tahunan, terutama saat memasuki musim kemarau. Kondisi lahan gambut yang mendominasi sebagian besar wilayah Muba membuat penanganan kebakaran membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan lahan mineral biasa.
Masyarakat di sekitar lokasi kebakaran diimbau untuk tetap waspada dan segera melapor kepada petugas apabila melihat munculnya titik api baru di sekitar tempat tinggal mereka.