PALEMBANG — Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, menegaskan persatuan menjadi tantangan terbesar NU memasuki abad kedua. Hal ini disampaikannya saat menyerap aspirasi pengurus Nahdlatul Ulama (NU) se-Sumatera Selatan dalam agenda silaturahmi di Palembang.
Menurut Gus Rozin, dinamika organisasi yang semakin kompleks berpotensi memecah belah ukhuwah jika tidak dikelola dengan baik. Ia menekankan pentingnya menjaga keutuhan organisasi di tengah berbagai kepentingan yang berkembang.
“Terkadang kita perlu mundur satu atau dua langkah demi menjaga ukhuwah dan memperkuat persatuan organisasi. Yang paling penting adalah NU tetap utuh dan mampu terus berkhidmah kepada umat,” ujarnya.
Hubungan NU dan Pemerintah Harus Dibangun dengan Semangat Kemitraan
Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah itu menyebut NU harus tetap menjadi organisasi masyarakat sipil keagamaan yang independen. Meski begitu, NU juga perlu menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun bangsa.
Gus Rozin menegaskan dukungan terhadap kebijakan pemerintah hanya diberikan jika membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Sebaliknya, kritik dan masukan konstruktif tetap perlu disampaikan ketika kebijakan dinilai tidak berpihak pada kepentingan umat.
Penguatan Ekonomi Jamaah Menjadi Agenda Strategis PBNU
Dalam bidang ekonomi, Gus Rozin menyoroti mayoritas warga Nahdliyin yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perikanan, dan UMKM. Penguatan ekonomi jamaah disebutnya harus menjadi agenda strategis kepemimpinan PBNU ke depan.
“NU adalah masyarakat sipil yang tumbuh dari bawah. Karena itu, penguatan ekonomi jamaah harus dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat, penguatan kelembagaan, pengembangan usaha warga, serta pengelolaan aset organisasi yang profesional,” katanya.
Ia menilai gerakan gotong royong dan program KOIN NU mampu memperbesar kemandirian organisasi. Dengan begitu, NU dapat menjalankan khidmah tanpa bergantung pada pihak lain.
Program PBNU Diminta Menyentuh Hingga Tingkat Ranting
Ketua PCNU Pagaralam, KH Deni Priansyah, mempertanyakan langkah konkret yang akan ditempuh Gus Rozin jika terpilih. Ia menyoroti masih banyak warga NU di daerah yang belum merasakan manfaat langsung program pemberdayaan organisasi.
Menurutnya, keberhasilan KOIN NU di sejumlah daerah mampu menghimpun dana hingga ratusan juta rupiah sekaligus meningkatkan partisipasi warga. Ia berharap program serupa bisa menjangkau seluruh daerah di Indonesia.
“Kami berharap program-program seperti itu dapat menjangkau seluruh daerah sehingga warga benar-benar merasakan kehadiran PBNU,” ujarnya.
Marwah Pesantren dan Perlindungan Santri Jadi Sorotan
Rais Syuriah PCNU Ogan Ilir, KH Qusyairi Abror, menyoroti pentingnya menjaga marwah pesantren di tengah pemberitaan negatif yang melibatkan oknum. Ia berharap PBNU memiliki strategi komunikasi publik yang lebih kuat untuk mencegah generalisasi kasus individu.
Gus Rozin menegaskan pesantren merupakan pilar utama NU yang harus dijaga kehormatannya. Setiap pelanggaran hukum tetap harus diproses sesuai aturan, namun pembenahan tata kelola dan sistem perlindungan santri perlu diperkuat.
“Pesantren harus tetap menjadi tempat yang aman, melahirkan ulama, membangun akhlak, sekaligus menjaga tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah. Karena itu, perlindungan terhadap santri dan penguatan tata kelola pesantren harus menjadi bagian dari agenda besar PBNU,” tegasnya.
Silaturahmi ini dihadiri jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan serta Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dari berbagai kabupaten dan kota. Sekretaris Tanfidziyah PWNU Sumatera Selatan, H. Ir. Ahmad Syarifudin Zuber, menyebut tujuh PCNU di Sumsel telah menyelesaikan Konferensi Cabang (Konfercab) dan siap mengikuti Muktamar Nahdlatul Ulama.