PALEMBANG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan puncak musim kemarau di Sumatera Selatan akan terjadi pada Agustus hingga September 2026, dengan potensi kekeringan dan kebakaran hutan lahan (karhutla) yang meningkat. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menyebut fenomena El Nino saat ini berada pada kategori kuat dan berpotensi menjadi sangat kuat.
Masyarakat di 17 kabupaten/kota diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama karena hujan yang turun akhir Juli lalu belum efektif memutus kemunculan hotspot.
El Nino Kuat Masih Berpeluang Menguat
Wandayantolis menjelaskan, berdasarkan analisis BMKG, kemarau tahun ini diprakirakan tidak sekering tahun 1997 maupun 2015. Meski begitu, potensi karhutla tetap harus diwaspadai karena kondisi kering diprediksi berlangsung hingga pertengahan Oktober.
"Kemarau diperkirakan berlangsung sampai pertengahan Oktober. Hujan masih mungkin terjadi, tetapi intensitasnya rendah sehingga belum efektif menghentikan kemunculan hotspot," ujarnya di Palembang, Jumat.
Hari Tanpa Hujan: 40 Hari di Sebagian Wilayah
Data BMKG menunjukkan sejumlah wilayah di Sumsel telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 40 hari. Namun, secara umum sebagian besar wilayah mencatat HTH selama enam hingga 10 hari.
Kondisi tersebut dipengaruhi hujan yang sempat terjadi pada 19-30 Juli 2026 sebagai dampak Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). "Sempat terjadi hujan pada akhir Juli, sehingga rangkaian HTH di banyak wilayah terputus. Karena itu sebagian besar HTH saat ini berada pada kisaran 6-10 hari, meski masih ada beberapa wilayah yang sudah lebih dari 40 HTH," jelas Wandayantolis.
Curah Hujan Juli Masih di Bawah Normal
Meski hujan sempat turun, BMKG mencatat akumulasi curah hujan sepanjang Juli 2026 di sebagian besar wilayah Sumsel masih berada di bawah normal atau lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan bulan lalu masih didominasi curah hujan di bawah normal.
"Karena itu masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama saat memasuki puncak musim kemarau pada Agustus dan September," kata Wandayantolis.
Imbauan bagi Masyarakat dan Pemerintah Daerah
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi cuaca kering seperti sekarang. Langkah preventif seperti penyiapan sumber air dan pemantauan titik panas perlu dilakukan lebih awal.
Operasi Modifikasi Cuaca yang telah dilakukan terbukti mampu memutus rangkaian hari tanpa hujan di sejumlah wilayah, namun efektivitasnya terbatas saat puncak kemarau tiba. Masyarakat yang tinggal di dekat kawasan gambut diminta lebih waspada karena potensi kebakaran bawah tanah lebih sulit dideteksi dan dipadamkan.