PALEMBANG — Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dintan TPH) Sumsel Bambang Pramono menyatakan ratusan brigade yang sudah terbentuk di provinsi itu belum dimanfaatkan maksimal. Menurut dia, pemberdayaan penuh menjadi kunci agar target produksi padi tercapai.
"Brigade Pangan yang telah terbentuk di provinsi ini perlu dimanfaatkan secara optimal, sehingga target produksi padi tersebut bisa dicapai untuk memperkuat ketahanan pangan nasional," ujar Bambang di Palembang, Minggu (25/10).
Sebaran 326 Brigade Pangan tidak merata. Dintan TPH Sumsel memfokuskan pengerahan di tiga kabupaten yang dinilai paling siap menampung program optimalisasi lahan dan cetak sawah baru, yakni Banyuasin, Ogan Ilir, dan OKU Timur.
Di wilayah-wilayah itu, brigade diharapkan membuat seluruh rangkaian kegiatan produksi padi yang melibatkan petani berjalan tanpa hambatan. Brigade berperan sebagai penggerak di tingkat lapangan, mulai dari penyiapan lahan hingga panen.
Dintan TPH Sumsel tidak bergerak sendiri. Jajaran TNI/Polri digandeng untuk menyukseskan cetak sawah baru dan optimalisasi lahan pertanian yang sudah ada.
Keyakinan mencapai 4 juta ton GKG bertumpu pada tren produksi lima tahun terakhir. Pada 2021, produksi padi Sumsel tercatat 2,55 juta ton GKG. Angka itu naik menjadi 2,77 juta ton pada 2022 dan 2,83 juta ton pada 2023.
Setahun berikutnya, produksi hanya bertambah tipis menjadi 2,84 juta ton GKG. Lompatan besar terjadi pada 2025, ketika produksi menembus 3,6 juta ton GKG atau naik sekitar 760 ribu ton dari tahun sebelumnya.
Bambang menyebut produksi itu dihasilkan sekitar 980 ribu petani dari total lahan sawah seluas 519.484 hektare. Artinya, target 4 juta ton pada 2026 menuntut tambahan sekitar 400 ribu ton GKG dalam satu tahun.
Penambahan lahan lewat cetak sawah baru menjadi jalur kedua setelah optimalisasi lahan eksisting. Dua jalur itu ditempuh bersamaan dengan pemberdayaan brigade di tingkat kecamatan dan desa.
Bagi petani di tiga kabupaten prioritas, dampaknya bersifat langsung: pendampingan budidaya lebih rapat, akses terhadap program cetak sawah lebih terbuka, dan koordinasi lintas instansi lebih cepat. Namun realisasi target tetap bergantung pada cuaca, ketersediaan pupuk, dan kesiapan lahan baru sebelum musim tanam berikutnya.
Dintan TPH Sumsel belum memerinci jadwal tahapan pencapaian target 4 juta ton GKG maupun pembagian kontribusi antar-kabupaten. Yang jelas, kata Bambang, sinergi antara brigade, optimalisasi lahan, dan cetak sawah baru menjadi tiga pilar yang diandalkan provinsi ini pada 2026.