Gubernur Sumsel Herman Deru Ancam Cabut HGU Lahan Terbakar Berulang, Minta Pemda Segera Surati BPN

Penulis: Rizal Hamdani  •  Selasa, 08 September 2026 | 20:01:31 WIB
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meninjau Posko Siaga Darurat Penanggulangan Karhutla Alang-Alang Lebar di Palembang, Senin (7/9/2026).

PALEMBANG — Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta pemerintah kabupaten/kota segera bersurat ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) terkait lahan HGU yang berkali-kali menjadi lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Instruksi itu disampaikan saat meninjau Posko Siaga Darurat Penanggulangan Karhutla Alang-Alang Lebar (AAL) di Palembang, Senin (7/9/2026).

Deru menegaskan, status HGU tidak membuat pemegang hak lepas dari tanggung jawab atas kondisi lahannya. Lahan yang tidak dikelola justru menjadi titik rawan api saat musim kemarau berkepanjangan.

“Kalau itu HGU, lahannya tidak dimanfaatkan, kemudian terjadi karhutla berulang, beri sanksi. Segera bersurat ke BPN agar diberi warning,” ujarnya.

Sanksi Pencabutan Sebagian HGU Mengancam Pemilik Lahan

Ancaman tidak berhenti pada peringatan tertulis. Herman Deru membuka peluang sanksi lebih berat berupa pencabutan sebagian HGU apabila kebakaran terjadi berulang dan meresahkan warga sekitar.

“Bahkan bisa saja HGU-nya dicabut sebagian jika (kejadian karhutla) sudah meresahkan dan mengganggu orang lain karena lahannya tak dimanfaatkan. Karena lahan itu pemberian pemerintah,” tegas Deru.

Dua Bulan Tanpa Hujan, Lahan Pertanian Mulai Puso

Instruksi tegas itu muncul di tengah kondisi cuaca ekstrem. Sejumlah wilayah di Sumsel dilaporkan tidak diguyur hujan selama lebih dari 60 hari. Kemarau panjang itu tak hanya memperbesar potensi karhutla, tetapi juga menekan sektor pertanian dan perkebunan.

“Saat ini Sumsel tengah menghadapi kemarau kering, kering sekali kondisi saat ini. Bahkan, ada daerah di Sumsel yang tidak hujan selama 60 hari lebih,” katanya.

Deru menyebut dampak kekeringan sudah terasa di lapangan. Sejumlah lahan pertanian mengalami puso, dan perkebunan karet ikut terdampak.

“Lantas, begitu banyak juga lahan jadi puso. Bukan hanya sawah, tapi juga perkebunan karet,” ujarnya.

Laporan Cepat Kunci Cegah Api Meluas

Di tengah tingginya risiko kebakaran, gubernur meminta seluruh personel satuan tugas (satgas) karhutla menjaga kesiapsiagaan. Kecepatan laporan dari masyarakat menjadi kunci agar api bisa ditangani sebelum membesar.

Pemantauan karhutla kini dilakukan secara real time. Namun, sistem tersebut tetap butuh dukungan warga di lapangan untuk memastikan titik api terdeteksi lebih awal.

“Saya juga meminta laporan kejadian karhutla ini bisa terus cepat dilakukan. Warga yang melihat kejadian bisa langsung melaporkan kepada RT, RT nanti menindaklanjutinya dengan menghubungi Babinsa atau pihak terkait lain. Ini saya yakin satu jam bisa selesai,” tutupnya.

Reporter: Rizal Hamdani
Sumber: relung.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top