SUMATERA SELATAN — Pengujian MindStudio pada MSI Prestige N16 Flip AI+ menemukan performa AI di Linux turun hampir 80% justru saat laptop dicolok ke charger. Dari 65,4 token per detik di Windows, angka itu jatuh ke 13,9 token per detik di Linux dengan kondisi teraliri listrik. Temuan ini membalik logika umum soal power delivery di laptop berbasis platform Nvidia RTX Spark.
Pengujian dilakukan MindStudio memakai MSI Prestige N16 Flip AI+ yang mengusung platform Nvidia RTX Spark. Laptop tersebut mendukung unified memory hingga 128GB, cukup untuk menjalankan model AI besar secara lokal tanpa bergantung layanan cloud. Tim peneliti ingin melihat apakah Linux bisa dipakai tanpa mengorbankan performa yang tersedia di Windows.
Skor Token per Detik: Windows 65,4 vs Linux 13,9
Model OpenAI GPT-OSS-120B menjadi tolok ukur utama. Di Windows, laptop menghasilkan 65,4 token per detik. Saat Linux dijalankan langsung di perangkat yang sama dan charger tersambung, angkanya merosot ke 13,9 token per detik — setara penurunan sekitar 79%.
Kesenjangan serupa muncul di uji beban lain. Satu pekerjaan AI selesai dalam sekitar delapan menit di Windows, sementara di Linux butuh 37 menit untuk tugas yang sama. Selisih waktunya lebih dari empat kali lipat.
Bukan Overheat: GPU Dipaksa Turun ke 780 MHz
MindStudio sempat menduga suhu tinggi sebagai penyebab. Dugaan itu gugur karena temperatur tetap di kisaran 40–47 derajat Celsius sepanjang pengujian. Akar masalahnya ada di clock speed GPU.
- Windows: clock GPU mencapai sekitar 2,2 GHz
- Linux dengan charger tersambung: clock GPU hanya sekitar 780 MHz
Penurunan frekuensi sebesar itu menjelaskan langsung kenapa throughput token ikut ambruk. GPU tidak pernah masuk ke kondisi kerja penuh saat Linux berjalan di sistem yang diuji.
Penyebabnya Komponen Platform Controllers and Framework
Peneliti menelusuri masalah ke komponen Nvidia bernama Platform Controllers and Framework. Di Windows, komponen ini mengatur pembagian daya antara CPU dan GPU. Linux belum punya dukungan setara untuk sistem yang diuji, sehingga GPU tidak bisa mencapai kecepatan yang seharusnya saat terhubung ke listrik.
Pembuktiannya dilakukan dengan mematikan controller tersebut di Windows. Performa langsung turun dan clock GPU jatuh ke level yang mirip dengan kondisi Linux. Begitu controller diaktifkan kembali, performa pulih. Tim juga melaporkan informasi manajemen daya pada firmware terenkripsi, sehingga Linux tidak bisa mengakses pengaturan yang dibutuhkan untuk mengendalikan GPU dengan benar.
Ironi Terbesar: Tanpa Charger Justru Lebih Cepat
Pengujian terpisah memunculkan hasil yang berlawanan dengan kebiasaan umum. Saat berjalan di Linux dengan baterai saja, laptop menghasilkan sekitar 61–67 token per detik. Begitu charger dicolok, angkanya jatuh ke sekitar 15 token per detik.
Artinya, untuk beban kerja AI di Linux, perangkat ini justru bekerja jauh lebih baik dalam kondisi tidak terhubung listrik. Pola ini tidak lazim dan bertentangan dengan asumsi bahwa mode plugged-in selalu memberi headroom daya lebih besar.
WSL Jadi Jalan Tengah, dengan Catatan
Ada solusi sementara bagi pengguna yang tetap ingin memakai perkakas AI berbasis Linux. Windows Subsystem for Linux (WSL) menghasilkan performa yang hampir identik dengan menjalankan Windows secara langsung. Penyebabnya, WSL memakai sistem driver Windows, termasuk komponen manajemen daya yang memungkinkan GPU Nvidia mencapai kecepatan penuh.
Kendalanya, peneliti harus menyesuaikan alokasi memori WSL agar cukup untuk model AI berukuran besar. Instalasi Linux secara langsung juga menuntut workaround tambahan untuk dukungan hardware dan konfigurasi memori. Untuk hardware yang diuji, WSL sementara ini menjadi opsi dengan pengalaman paling mulus.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli
- Hasil ini berasal dari satu studi pada satu sistem RTX Spark dan belum direplikasi independen di model laptop lain
- Temuan tidak berlaku otomatis untuk semua laptop berplatform Nvidia
- Perangkat ini berbeda dari DGX Spark desktop yang berjalan di Linux dan tampil jauh lebih baik di benchmark yang sama
- Dukungan manajemen daya Nvidia untuk Linux belum setara Windows, jadi performa bisa sangat bergantung pada sistem operasi
Tom's Guide sudah menghubungi Nvidia untuk meminta komentar dan akan memperbarui laporan bila ada tanggapan. Sampai dukungan setara tersedia, pengguna yang mengandalkan beban kerja AI di laptop RTX Spark sebaiknya menimbang ulang rencana instalasi Linux langsung. Menjalankan Windows, atau Linux lewat WSL, masih menjadi jalur tercepat untuk mendapatkan performa penuh dari hardware ini.