EMPAT LAWANG — Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Empat Lawang baru menjalankan kegiatan pendidikan pada tahun ajaran 2026/2027. Persoalan air bersih yang tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari siswa membuat pembelajaran tatap muka dihentikan sementara dan peserta didik dikembalikan ke rumah masing-masing.
Kepala Satuan Pendidikan di lokasi tersebut sebelumnya menjelaskan bahwa ketersediaan air tidak mencukupi kebutuhan harian siswa yang tinggal di asrama. Ratusan peserta didik tercatat sebagai siswa dalam program Sekolah Rakyat di lokasi itu.
Kondisi tersebut viral di media sosial dan memantik respons dari kalangan praktisi pendidikan. Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan Bayumi AP MSi menilai persoalan itu muncul pada saat yang ironis.
Anggaran Program Sekolah Rakyat Capai Puluhan Triliun
Dalam Nota Keuangan RAPBN 2026, pemerintah mengalokasikan Rp 24,9 triliun untuk penyelenggaraan dan pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat. Untuk RAPBN 2027, pemerintah merencanakan Rp 32,9 triliun guna membangun 100 Sekolah Rakyat baru dan membiayai operasional 166 Sekolah Rakyat.
Besarnya anggaran itu membuat persoalan di Empat Lawang dinilai sebagai sorotan serius. Sekolah Rakyat bukan sekadar proyek pembangunan gedung, melainkan sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
"Karena itu, air bersih, sanitasi, listrik, tempat tinggal, makanan, kesehatan, dan fasilitas belajar bukan fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan fundamental agar sistem pendidikan berasrama dapat berjalan," kata Bayumi.
Gedung Berdiri, tapi Sekolah Berasrama Tak Bisa Berfungsi Tanpa Air
Bayumi menyoroti bahwa gedung sekolah bisa berdiri megah, tetapi tanpa air, sekolah berasrama tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Persoalan ini dinilainya menjadi ujian terhadap kesiapan perencanaan program.
"Jangan sampai pembangunan fisik bergerak lebih cepat daripada kesiapan infrastruktur dasar yang menentukan apakah siswa dapat benar-benar tinggal dan belajar secara layak," ujarnya.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait, menurut Bayumi, harus menyiapkan solusi. Salah satu opsi yang dikaji adalah memanfaatkan sumber air terdekat untuk membangun sistem penyediaan air minum (SPAM).
Bantuan Air Tangki Dinilai Hanya Langkah Darurat
Bantuan air tangki dapat menjadi langkah darurat, tetapi dinilai tidak cukup untuk sekolah yang dirancang sebagai tempat pendidikan sekaligus hunian siswa. Yang dibutuhkan adalah kepastian sumber air, jaringan distribusi, kapasitas pengolahan, sanitasi, serta anggaran pemeliharaan yang berkelanjutan.
Program Sekolah Rakyat dirancang memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem dengan sistem berasrama. Standar kelayakan fasilitas dasar semestinya berjalan beriringan dengan pembangunan ruang kelas dan asrama.
Krisis air di Empat Lawang membuka pertanyaan lebih besar soal seberapa matang kesiapan infrastruktur dasar sebelum sebuah Sekolah Rakyat mulai menerima siswa. Kebutuhan paling dasar seperti air bersih semestinya bukan persoalan yang baru dicari solusinya setelah sekolah berjalan.
"Anggaran puluhan triliun harus berujung pada layanan pendidikan yang benar-benar berjalan. Bukan sekadar gedung yang berdiri, tetapi sekolah yang mampu menjamin anak-anak belajar, tinggal, makan, menjaga kesehatan, dan menjalani kehidupan sehari-hari secara layak," kata Bayumi.