Pencarian

PLN Aliri Listrik 24 Jam ke Desa Patialo Mandailing Natal, 108 Keluarga Akhirnya Terang

Selasa, 29 September 2026 • 12:33:31 WIB
PLN Aliri Listrik 24 Jam ke Desa Patialo Mandailing Natal, 108 Keluarga Akhirnya Terang
Warga Desa Patialo, Mandailing Natal, kini menikmati pasokan listrik PLN 24 jam melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL).

SUMATERA SELATAN — PT PLN (Persero) resmi menghadirkan listrik 24 jam bagi 108 kepala keluarga di Desa Patialo, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara, melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Kementerian ESDM. Selama bertahun-tahun, warga desa yang terletak 7 kilometer di balik bukit dari jalan utama kecamatan itu hanya mengandalkan lampu teplok dan jaringan listrik swadaya yang kerap padam. Masuknya pasokan listrik stabil membuka peluang warga mengembangkan potensi ekonomi lokal yang sebelumnya terhambat keterbatasan penerangan.

Desa Patialo bukan wilayah yang mudah dijangkau jaringan listrik konvensional. Berada di balik bukit, sekitar 7 kilometer dari jalan utama Kecamatan Kotanopan, desa ini sempat mengandalkan pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH) swadaya. Pasokan dari kincir air itu tidak stabil, sehingga aktivitas warga, terutama pada malam hari, kerap terhenti.

Program BPBL dari pemerintah melalui Kementerian ESDM mengubah kondisi tersebut. Sambungan listrik PLN kini mengalir penuh 24 jam ke rumah-rumah warga, menggantikan ketergantungan pada lampu minyak dan jaringan terbatas.

Belajar di Bawah Lampu Teplok

Keterbatasan listrik meninggalkan cerita panjang bagi warga Desa Patialo. Asmaul Husna, putri asli desa yang meraih beasiswa ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, harus berjuang ekstra saat mengikuti pembelajaran daring sebelum berangkat kuliah. Jaringan internet dari PLTMH sering terputus, terutama ketika ia mengikuti kelas lewat Zoom.

"Dulu, kami belajar membaca dan berhitung menggunakan lampu teplok. Setelah ada listrik dari kincir air (PLTMH), kami mulai bisa memakai WiFi, tapi jaringannya sering terputus-putus, apalagi saat saya harus belajar lewat Zoom," tutur Husna.

Pengalaman serupa dirasakan Nurlina Lubis, guru ngaji di desa tersebut. Ia mengajar anak-anak mengaji dengan lampu pelita. Ketika minyak tanah habis, kegiatan belajar terpaksa dihentikan.

"Dulu ngaji di sini pakai lampu teplok. Kalau mati lampu atau minyak tanah habis, anak-anak jadi tidak bisa mengaji lagi. Mereka sedih," ujar Nurlina.

Harapan Baru dari Pekebun Kayu Manis

M Jamil Lubis, pekebun kayu manis di Patialo, menyambut langsung kehadiran listrik PLN. Baginya, desanya kini berdiri setara dengan wilayah lain di Indonesia yang sudah lebih dulu menikmati pasokan energi stabil.

"Sebagai warga Desa Patialo, saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah membantu sehingga listrik PLN bisa masuk ke desa kami," ujar Jamil.

Kabupaten Mandailing Natal dikenal sebagai salah satu sentra kayu manis di Sumatra Utara. Selama ini, keterbatasan listrik menjadi kendala bagi warga yang ingin mengolah hasil kebun, membuka usaha kecil, atau mengakses informasi pasar. Dengan pasokan 24 jam, peluang itu mulai terbuka.

Fondasi Ekonomi Desa

Bupati Mandailing Natal, Saipullah Nasution, menilai listrik stabil bukan sekadar penerangan, melainkan fondasi bagi warga untuk merencanakan kegiatan ekonomi. Ia menyebut program ini merupakan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto kepada Kementerian ESDM untuk menghadirkan listrik di seluruh Indonesia.

"Pertama, tentu kami mengucapkan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang telah menginstruksikan kepada Kementerian ESDM untuk menghadirkan listrik seluruh Indonesia. Ini adalah program Pak Presiden yang langsung dijabarkan oleh Menteri ESDM, Pak Bahlil. Beliau langsung merespons kegiatan ini dengan adanya listrik ini dan sudah menyala secara stabil, maka kehidupan masyarakat sudah bisa merencanakan kegiatan-kegiatan ekonomi," ungkap Saipullah.

Program BPBL menyasar rumah tangga yang belum teraliri listrik, terutama di daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal. Skema ini menempatkan pemerintah sebagai penyandang biaya penyambungan, sementara PLN menangani instalasi dan pasokan.

Bagi 108 keluarga di Desa Patialo, arti program ini jauh melampaui angka sambungan. Anak-anak bisa belajar tanpa bergantung pada minyak tanah, guru ngaji bisa kembali mengajar setiap malam, dan pekebun kayu manis punya ruang untuk menumbuhkan usaha. Listrik yang menyala 24 jam menjadi titik balik dari penantian bertahun-tahun di balik bukit Kotanopan.

Follow inisumsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks