Pencarian

Pondok Pesantren Bina Cendekia Luhur Lampung Timur Ikuti Workshop Nasional Pengasuh di Cirebon, Targetkan Transformasi Kurikulum

Minggu, 05 Juli 2026 • 15:12:01 WIB
Pondok Pesantren Bina Cendekia Luhur Lampung Timur Ikuti Workshop Nasional Pengasuh di Cirebon, Targetkan Transformasi Kurikulum
Delegasi Pondok Pesantren Bina Cendekia Luhur Lampung Timur mengikuti Workshop Nasional Pengasuh Pesantren di Cirebon.

LAMPUNG TIMUR — Pondok Pesantren Bina Cendekia Luhur dari Lampung Timur mengirimkan perwakilannya ke Workshop Pengasuh Pesantren Nasional di Cirebon, Jawa Barat, pada Sabtu (4/7/2026). Acara yang berlangsung di Joglo Agung, Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon ini diinisiasi oleh Imam Jazuli Foundation.

Workshop mengusung tema penguatan kapasitas pengasuh pesantren. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini menyasar peningkatan mutu pengelolaan lembaga pendidikan Islam di seluruh Indonesia.

Ponpes Bina Cendekia Luhur hadir dengan delegasi yang dipimpin langsung oleh Direktur Litbang, Dr. Assadurohman, M.H. “Workshop ini sangat penting sebagai ikhtiar bersama untuk menjadikan pesantren sebagai The Center of Excellence. Banyak ilmu dan pengalaman yang bisa kami bawa pulang untuk diterapkan di Lampung Timur,” ujarnya di sela-sela acara.

Pesan Kiyai Imam Jazuli: Kurikulum Harus Adaptif dan Berorientasi Masa Depan

Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, Kiyai Imam Jazuli, Lc, MA, menyampaikan sejumlah arahan strategis. Ia menekankan pentingnya meracik ulang kurikulum, termasuk program tahfizh dan kitab kuning, agar lebih adaptif dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, program tahfizh harus menjadi jembatan antara orientasi duniawi dan ukhrawi. Santri perlu diarahkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri (PTN), sekolah kedinasan, hingga meraih beasiswa luar negeri.

“Cara berpikir pengasuh harus berubah menyesuaikan kebutuhan wali santri dan tuntutan zaman. Pesantren harus berani bertransformasi dan berpikir out of the box agar tidak tertinggal dari kelompok lain,” tegas Kiyai Imam Jazuli.

Ia juga menyarankan agar pesantren fokus pada peningkatan kuantitas santri hingga minimal 500 orang demi keberlangsungan lembaga. Kurikulum, lanjutnya, harus disusun berdasarkan kepuasan wali santri dan kebutuhan pasar. Para pengasuh didorong untuk menduplikasi metode yang sudah terbukti berhasil, lalu memodifikasinya menjadi ciri khas masing-masing pesantren.

Kiyai Ma’ruf Amin: Pesantren Pusat Peradaban Islam Baru

Workshop juga mendapat penguatan dari Kiyai Ma’ruf Amin. Ia menegaskan bahwa pesantren tidak hanya mencetak generasi yang faqih dalam agama, tetapi juga harus melahirkan penggerak bangsa dan umat.

Menurutnya, fiqrah ma’hadiyyah atau visi kepesantrenan harus dinamis dan tidak statis agar mampu menjawab tantangan zaman. Ia menekankan pentingnya bersanad dan berturots sebagai ciri khas sekaligus bagian dari ilmiah ma’hadiyyah.

“Semangat membangun pesantren harus seperti membangun Baitul Hikmah di Nusantara. Pusat peradaban Islam sekarang adalah pondok pesantren,” ujar Kiyai Ma’ruf Amin.

Ia juga mengingatkan bahwa NU harus berlandaskan basyirah (kesadaran) bukan bisyarah (iming-iming). Kekuatan NU, lanjutnya, berada di ranah kultural, bukan struktural. Sejak awal, NU adalah gerakan diniyyah, kebangsaan, sekaligus gerakan dagang yang visioner.

Sinergi Antar-Pesantren untuk Generasi Qur’ani

Kegiatan yang digagas Imam Jazuli Foundation bersama Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon ini diikuti oleh puluhan pengasuh dari berbagai daerah. Diharapkan, hasil workshop mampu memperkuat sinergi antar-pesantren dalam mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak mulia dan siap menjadi pemimpin umat.

Bagikan
Sumber: sumselindependen.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks