SUMATERA SELATAN — Uji banding sembilan sedan "near luxury" era 1997 menunjukkan fakta yang jarang diakui pabrikan: mobil termahal di kelas ini belum tentu paling lengkap. Car and Driver menguji Acura 3.2TL hingga Volvo 850GLT di jalur berkelok Hocking Hills, Ohio, dan menemukan tak satu pun mobil punya kombinasi traction control, CD player, keyless entry, plus wiper intermiten variabel sekaligus. Saab 900SE yang dijagokan lewat desain antiknya justru finis paling buncit.
Car and Driver menjalankan uji banding ini pada edisi Februari 1997, dengan sembilan sedan yang semuanya bermain di segmen "near luxury" — kelas di bawah mewah sesungguhnya, tapi di atas sedan keluarga biasa. Sembilan mobil itu adalah Acura 3.2TL, Cadillac Catera, Ford Taurus SHO, Infiniti I30, Lexus ES300, Mazda Millenia, Mitsubishi Diamante, Saab 900SE, dan Volvo 850GLT.
Kriteria masuknya jelas: harga di atas sedan keluarga terbaik yang mentok sekitar USD 28.000, tapi tidak melewati ambang pajak barang mewah USD 34.000. Alasan pemilihan angka itu pragmatis — pembeli kelas ini ingin terlihat sebagai eksekutif yang hemat dan anti-pajak, bukan orang yang pamer.
Dari 17 sedan di rentang harga tersebut, lima dicoret berdasarkan hasil uji banding dan road test sebelumnya. BMW 3-Series dan Mercedes C-Class gugur karena versi yang perlengkapannya wajar hanya lolos ambang pajak dalam wujud mesin empat silinder.
Alasan kedua lebih mendasar: kabin keduanya tergolong subkompak, kurang layak untuk mengangkut empat eksekutif sekaligus. Argumen yang sama menyingkirkan Audi A4. Sembilan mobil yang tersisa dianggap krim dari kelas ini.
Komposisi dapur pacu kelompok ini cukup beragam. Tujuh mobil memakai V6 24 katup, satu mengandalkan lima silinder turbo, dan satu lagi membawa V8 32 katup. Semuanya menyalurkan tenaga lewat transmisi otomatis empat percepatan — hanya Infiniti yang menawarkan opsi transmisi manual.
Asal-usulnya juga bercampur: dua mobil Swedia, satu murni Amerika, satu Jerman-Amerika (Cadillac yang berbasis Opel), dan lima Jepang. Dalam akselerasi lurus, sembilan mobil ini tergolong rapat — tujuh di antaranya hanya terpaut 0,3 detik dari rata-rata waktu 0-60 mph dan seperempat mil.
Ini temuan yang paling menohok untuk kelas harga USD 30 ribuan. Tidak ada satu mobil pun yang punya keempat item berikut sekaligus: traction control, CD player, remote keyless entry, dan wiper intermiten variabel.
Artinya, membeli sedan mewah mendekati USD 30 ribu pada 1997 belum menjamin kabin serba lengkap. Pabrikan masih memainkan paket opsi untuk menjaga margin.
Saab 900SE finis paling buncit. Untuk eksekutif di perusahaan yang ingin tampil beda, mobil ini memang berteriak "saya lain dan bangga akan hal itu". Kunci kontak di lantai, bentuk yang tak tertukar, dan jok depan setinggi kursi makan restoran membuatnya seperti memakai topi baseball terbalik.
Sebagian keanehan itu berguna. Hatch belakang dan jok belakang lipat terpisah dengan lubang sandaran tangan membuat bagasinya menelan lebih dari 50 kaki kubik, atau kotak berukuran 62 x 34 x 25 inci. Sebagian lain kurang menyenangkan: kaca depan tegak dan jauh ala Boeing 747 membatasi pandangan ke lampu lalu lintas atas.
Jok belakangnya termasuk yang paling sempit dan paling tidak nyaman di kelompok ini. Bantalan rendah memberi ruang kepala melimpah, tapi mengorbankan topangan paha dan ruang kaki. Sisi positifnya, ada tiga sabuk bahu di belakang, masing-masing dengan tuas di pengunci yang bisa mengencangkan sabuk pangkuan untuk pemasangan kursi anak.
Saab mencetak grip skidpad tertinggi di kelompok ini, 0,81 g, menyamai Mazda. Pengeremannya juga terbaik: 168 kaki dari 70 mph. Tapi kurangnya umpan balik setir dan understeer besar, ditambah V6 2.5 liter yang lemah di putaran bawah, membuatnya sulit memancing senyum di jalur berkelok.
Kombinasi itu menjelaskan kenapa mobil dengan angka grip terbaik justru finis terakhir. Di kelas ini, sensasi berkendara dan kenyamanan penumpang berbobot lebih besar daripada catatan angka di lintasan.