SUMATERA SELATAN — Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengungkapkan, peristiwa itu bermula saat keluarga siswa datang ke kantor cabang BNI Lubuk Pakam untuk mendaftarkan dan mengaktifkan rekening PIP. Petugas bank telah menyampaikan sejak awal bahwa proses tersebut tidak perlu tergesa-gesa, mengingat masa pendaftaran masih berlangsung hingga akhir 2026.
Okki menjelaskan, petugas BNI bahkan menyarankan agar aktivasi ditunda hingga kondisi kesehatan siswa membaik. Namun, keluarga memutuskan kembali pada hari yang sama untuk melanjutkan proses tersebut.
"Petugas menyampaikan bahwa siswa dapat tetap berada di dalam ambulans apabila kondisinya belum memungkinkan untuk masuk ke kantor cabang," ujar Okki dalam keterangan resmi, Senin (17/3).
BNI menegaskan tidak ada arahan dari petugas yang memaksa siswa datang dalam kondisi sakit. Sebaliknya, bank pelat merah itu mengklaim telah memberikan pendampingan penuh kepada keluarga selama proses berlangsung.
"Kami telah membantu menyelesaikan seluruh proses pendaftaran dan aktivasi rekening PIP siswa yang bersangkutan. Petugas BNI mendampingi keluarga dalam setiap tahapan hingga seluruh proses berhasil dituntaskan," kata Okki.
Manajemen BNI juga menyampaikan rasa prihatin atas kondisi yang dialami siswa dan keluarganya. Perseroan memahami kekhawatiran masyarakat yang melihat video tersebut dan memastikan pelayanan tetap mengedepankan aspek kemanusiaan.
Program Indonesia Pintar (PIP) merupakan bantuan tunai dari pemerintah yang disalurkan melalui perbankan, termasuk BNI, untuk siswa dari keluarga kurang mampu. Penerima manfaat wajib mengaktifkan rekening agar dana bisa dicairkan.
Meski masa aktivasi masih panjang, antrean di kantor cabang kerap terjadi menjelang tahun ajaran baru. Peristiwa di Lubuk Pakam ini menjadi pengingat bagi bank dan pemerintah untuk menyediakan mekanisme yang lebih fleksibel bagi penerima manfaat yang memiliki keterbatasan fisik atau kondisi darurat.