SUMATERA SELATAN — Populasi motor listrik di Indonesia terus bertambah, namun persoalan limbah baterai mulai mengemuka. Banyak pemilik masih berpikir baterai bekas harus langsung dibuang begitu performanya menurun. Faktanya, tidak semua komponen baterai berakhir sebagai sampah.
Muhlasin, pemilik bengkel spesialis motor listrik EV Solution di Pondok Aren, Tangerang Selatan, menjelaskan bahwa penanganan limbah tergantung jenis baterai. Baterai SLA (Sealed Lead Acid) yang banyak dipakai motor listrik entry level punya sistem pengelolaan yang sudah matang.
"Untuk SLA, sudah ada pabrik pengolah limbah yang mengambil sebulan sekali, sama seperti aki mobil," ujar Muhlasin kepada Kompas.com. Material timbal dan komponen lain dari baterai SLA bisa diproses kembali menjadi bahan baku baru oleh perusahaan pengolah limbah.
Pola ini sudah berjalan lama karena rantai pengumpulan dan pengolahan aki konvensional di Indonesia sudah terbentuk. Artinya, baterai SLA motor listrik bekas tidak langsung menumpuk di TPA.
Berbeda dengan SLA, limbah baterai litium belum banyak karena penggunaannya relatif baru dan usia pakainya panjang. Muhlasin mengungkapkan, sebagian besar perbaikan baterai litium saat ini bahkan belum sampai mengganti satu paket penuh.
"Biasanya kalau servis ganti sel, sel bekasnya diminta lagi oleh konsumen karena masih bisa dipakai untuk senter, lampu emergency, atau mobil mainan," katanya. Kerusakan umumnya hanya terjadi pada beberapa sel atau komponen Battery Management System (BMS).
Satu paket baterai litium 72V 25Ah terdiri dari sekitar 100 sel baterai. Ketika rusak, tidak semua sel mati total. "Sejauh ini kebanyakan cuma ganti BMS atau beberapa sel saja," ujar Muhlasin.
Kondisi ini membuka peluang pemanfaatan kembali atau second life bagi sel baterai yang masih memiliki kapasitas cukup baik. Sel-sel tersebut bisa digunakan sebagai sumber daya untuk perangkat berdaya rendah seperti senter, lampu darurat, hingga mainan listrik.
Dengan kata lain, baterai motor listrik yang sudah tidak optimal untuk kendaraan belum tentu menjadi limbah sepenuhnya. Sebagian komponen masih bisa digunakan kembali, sementara sisanya berpotensi masuk ke rantai daur ulang seiring berkembangnya industri pengolahan limbah baterai kendaraan listrik di Indonesia.