MUSI BANYUASIN — Kesenjangan akses listrik di Sumatera Selatan masih terlihat jelas di Kabupaten Musi Banyuasin. BPS mencatat, hanya 64,84 persen rumah tangga di wilayah tersebut yang menggunakan listrik PLN. Sebaliknya, 1,49 persen rumah tangga bahkan belum menikmati listrik sama sekali.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah. Di saat sejumlah kabupaten/kota lain seperti Lahat, Musi Rawas, Pagar Alam, dan Lubuk Linggau telah mencapai 100 persen elektrifikasi PLN, Muba justru tertinggal jauh.
Wilayah lain seperti Palembang, Prabumulih, Banyuasin, hingga Ogan Ilir juga mencatat angka penggunaan listrik PLN yang mendekati 100 persen. Sementara itu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Muara Enim, OKU Timur, dan PALI sukses menembus angka di atas 99 persen.
Ketimpangan ini menandakan bahwa pemerataan infrastruktur kelistrikan belum sepenuhnya menjangkau seluruh pelosok Musi Banyuasin. Daerah terpencil menjadi tantangan utama dalam perluasan jaringan PLN.
BPS menyebut akses terhadap listrik merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kualitas hidup masyarakat. Semakin tinggi akses listrik, semakin baik pula infrastruktur dan kesejahteraan rumah tangga.
Meski capaian provinsi secara umum sudah tinggi, masih ada wilayah seperti Empat Lawang dan Musi Rawas Utara yang memiliki sebagian kecil rumah tangga tanpa listrik. Namun, persoalan di Musi Banyuasin jauh lebih akut dengan sepertiga warganya masih bergantung pada listrik non-PLN.
Pemerintah daerah masih menghadapi tantangan berat untuk memastikan seluruh wilayah, terutama daerah terpencil, dapat menikmati listrik secara merata. Peningkatan akses listrik dari PLN diharapkan terus menjadi prioritas.
Langkah ini dinilai krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Sumatera Selatan, khususnya di Musi Banyuasin yang masih tertinggal dibanding daerah lain.