BATURAJA — Embung desa yang semula tidak berjalan optimal di Desa Makartitama, Kabupaten Ogan Komering Ulu, kini menjadi sumber penghasilan tetap bagi warga. Inisiatif warga lokal bernama Erliyanto (48) mengubah fungsi kolam tampungan air menjadi kawasan produktif yang dikelola secara kolektif.
Gagasan Erliyanto untuk membudidayakan ikan air tawar seperti lele, patin, dan nila mendapat sambutan dari PHE Ogan Komering sejak 2024. Perusahaan hulu migas yang telah mendampingi desa ini sejak 2022 itu memberikan bantuan sarana prasarana dan pelatihan, mulai dari jurnalisme warga hingga manajemen usaha.
Kelompok pengelola kini tidak hanya menjual ikan hasil budidaya. Mereka juga mengembangkan pakan ikan mandiri berbahan baku maggot untuk menekan biaya operasional. Konsep sirkular ekonomi ini membuat pengelolaan embung lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Saya ingin embung ini bukan hanya bermanfaat untuk hari ini, melainkan juga untuk masa depan melalui pengelolaan potensi desa secara bersama-sama,” ujar Erliyanto di OKU, Selasa.
PHE Ogan Komering juga menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp dengan baterai 10 kWh di lokasi wisata. Energi terbarukan ini digunakan untuk penerangan, pompa air, aerator, dan mesin pendingin.
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan kehadiran PLTS mampu memangkas biaya operasional pengelola sekitar Rp850 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan. “Kami percaya potensi desa yang dikelola bersama masyarakat dapat tumbuh menjadi sumber penghidupan baru yang berkelanjutan,” kata Iwan.
Program pemberdayaan ini direncanakan memasuki tahap pelepasan (exit program) pada akhir 2026. Artinya, masyarakat Desa Makartitama diharapkan sudah sepenuhnya mandiri mengelola potensi lingkungan secara berkelanjutan tanpa pendampingan perusahaan.
PHE Ogan Komering Field merupakan bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, Subholding Upstream Pertamina yang mengoperasikan tujuh wilayah kerja hulu migas di bawah koordinasi SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan. Wilayah kerja itu meliputi PEP Prabumulih Field, PEP Limau Field, PEP Adera Field, PEP Pendopo Field, PEP Ramba Field, PHE Ogan Komering, dan PHE Raja Tempirai.
Saat ini, pengelolaan budidaya ikan dan taman wisata pemancingan menghasilkan pendapatan kelompok mencapai Rp25 juta per bulan. Sebagian dari pendapatan tersebut disetorkan sebagai kontribusi bagi pendapatan asli desa guna mendukung kemajuan Desa Makartitama.
Program pemberdayaan ini direncanakan memasuki tahap pelepasan (exit program) pada akhir 2026 agar masyarakat dapat sepenuhnya mandiri dalam mengelola potensi lingkungan secara berkelanjutan.