Tim Metalurgi AMMAN Ciptakan Inovasi Olah Tembaga, Raup Penghargaan di Konferensi Global Australia

Penulis: Zulkarnain Hamid  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 15:43:01 WIB
Tim Metalurgi AMMAN memperkenalkan teknologi CPS dengan sensor ORP untuk optimasi pengolahan bijih tembaga.

SUMATERA SELATAN — Didit dan rekan-rekannya di divisi Metalurgi AMMAN setiap hari bergulat dengan satu masalah utama: bagaimana memaksimalkan nilai tambah dari setiap ton bijih tembaga yang diolah. Tantangan terbesar muncul saat mereka mengolah bijih dari stockpile—material yang sudah ditambang dan disimpan sebelumnya. Bijih ini mengalami oksidasi, sehingga kadar tembaga yang bisa diambil dalam proses flotasi cenderung menurun drastis. Jika dibiarkan, nilai ekonomi dari tumpukan bijih itu terus tergerus.

Sensor Canggih yang Bikin Dosis Bahan Kimia Tepat Sasaran

Solusi yang ditemukan tim adalah teknik bernama Controlled Potential Sulfidisation (CPS) yang dipadukan dengan sensor Oxidation Reduction Potential (ORP). Teknologi ini bekerja seperti sistem kontrol presisi. Sensor ORP memonitor kondisi kimia lumpur hasil pengolahan (slurry) secara real-time.

Dengan data akurat itu, tim bisa menentukan dosis reagen pengaktif (NaHS) yang ditambahkan ke dalam slurry secara pas—tidak kurang, tidak lebih. Hasilnya, mineral tembaga yang tadinya sulit dipisahkan karena oksidasi kini bisa menempel pada gelembung udara dalam proses flotasi dan naik ke permukaan untuk diambil. "Ibarat memasak dengan bumbu yang harus pas, penambahan reagen ini juga harus tepat," kata Didit, putra daerah Sumbawa Barat yang menjadi motor inovasi ini.

Efisiensi Ganda: Produksi Naik, Biaya Kimia Turun Hingga 18 Persen

Keberhasilan teknik ini tidak hanya meningkatkan recovery atau perolehan tembaga secara signifikan. Yang lebih menarik, performa tinggi itu justru dibarengi dengan penurunan konsumsi bahan kimia hingga 18,3 persen. Artinya, AMMAN berhasil mengoptimalkan sumber daya alam sekaligus menekan biaya operasional secara nyata.

Inovasi ini kemudian ditulis dalam sebuah karya ilmiah dan dipresentasikan di MetPlant 2026, konferensi metalurgi bergengsi di Adelaide, Australia. Di forum yang menjadi ajang berkumpul para pakar pengolahan mineral global itu, makalah tim AMMAN meraih penghargaan Best Paper.

Putra Daerah Sumbawa yang Diakui Dunia

Bagi Didit, pengakuan ini membuktikan bahwa inovasi berkualitas tidak harus lahir dari laboratorium asing. "Perusahaan memberikan ruang luas bagi kami untuk terus berinovasi. Semangat lokal dari Sumbawa Barat bisa menghasilkan karya teknis yang diakui secara global," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa budaya kerja di AMMAN yang mendorong perbaikan berkelanjutan dan dukungan penuh dari para pimpinan menjadi kunci lahirnya terobosan ini. Kini, teknologi CPS dengan sensor ORP tidak hanya menjadi solusi internal, tetapi juga standar baru dalam pengolahan bijih tembaga teroksidasi yang bisa ditiru oleh industri tambang lainnya di Indonesia.

Reporter: Zulkarnain Hamid
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top