Pertamina Gandeng ExxonMobil dan SK Group, Garap Migas Global hingga Karbon Lintas Negara

Penulis: Syamsudin Rasyid  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 11:16:40 WIB
Pertamina resmi menjalin kerja sama dengan ExxonMobil dan SK Group untuk pengembangan migas dan proyek CCS lintas negara.

SUMATERA SELATAN — Perusahaan migas pelat merah itu resmi menggandeng ExxonMobil dan SK Group dalam dua nota kesepahaman terpisah. Dokumen pertama diteken dalam Forum Bisnis Indonesia–Korea di Seoul pada 1 April 2026, disusul penandatanganan kedua di sela Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition (IPA Convex) 2026 di Tangerang Selatan, Rabu (20/5).

Dua Arah Strategi: Hulu Migas dan Karbon Regional

Kerja sama dengan SK Group dan ExxonMobil mencakup dua ranah utama. Pertama, pengembangan aset hulu migas dan peningkatan kinerja operasi. Kedua, penjajakan proyek Carbon Capture and Storage (CCS) lintas batas antara Indonesia dan Korea Selatan.

Untuk sektor CCS, PHE melihat potensi besar pada kapasitas penyimpanan karbon di Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dekarbonisasi industri di Korea Selatan. Rantai nilai CCS regional ini disebut-sebut bakal membuka posisi Indonesia sebagai salah satu hub penyimpanan karbon di Asia.

“Kemitraan global menjadi kunci untuk memperkuat posisi PHE dalam industri energi internasional sekaligus menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar Direktur Manajemen Risiko PHE, Whisnu Bahriansyah, dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (21/5).

Mengapa Kemitraan Ini Krusial?

Bagi PHE, kolaborasi ini bukan sekadar seremoni. Perusahaan membutuhkan mitra berteknologi tinggi untuk mempercepat transformasi menuju perusahaan energi kelas dunia. ExxonMobil dikenal menguasai teknologi hulu migas dan CCS, sementara SK Group memiliki jaringan industri dan kebutuhan dekarbonisasi yang besar di Korea.

Di sisi lain, tekanan terhadap BUMN migas untuk menyeimbangkan bisnis minyak dan gas dengan target net zero emission kian nyata. Dengan menggandeng mitra global, PHE bisa membagi risiko investasi teknologi rendah karbon yang selama ini mahal dan belum terbukti secara komersial di Indonesia.

Whisnu menambahkan, kerja sama ini merupakan bagian dari strategi memperkuat kapabilitas teknis dan membuka peluang pertumbuhan anorganik. Artinya, PHE tidak hanya mengandalkan eksplorasi internal, tetapi juga akuisisi dan joint venture dengan pemain global.

Belum Ada Komitmen Investasi, Tapi Visi Sudah Satu

PHE menegaskan bahwa seluruh nota kesepahaman ini masih bersifat awal dan belum mengikat secara komersial. Namun, kesepakatan ini dinilai penting sebagai pijakan untuk studi lanjutan dan diskusi teknis.

“Kerja sama ini mencerminkan kesamaan visi para pihak dalam mendorong inovasi teknologi, pengembangan bisnis energi, serta implementasi prinsip keberlanjutan,” tulis manajemen PHE dalam siaran pers.

Ke depan, PHE berkomitmen menjalankan seluruh operasi sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan menerapkan sistem anti-penyuapan berstandar ISO 37001:2016. Langkah ini penting untuk menjaga kredibilitas di mata mitra global yang kerap mensyaratkan tata kelola ketat sebelum meneken kontrak investasi besar.

FAQ: Pertamina Gandeng ExxonMobil dan SK Group

Apa tujuan Pertamina menggandeng ExxonMobil dan SK Group?
Pertamina Hulu Energi ingin memperkuat portofolio hulu migas dan mengembangkan proyek Carbon Capture and Storage (CCS) lintas batas. Kerja sama ini juga membuka peluang ekspansi global dan adopsi teknologi rendah karbon.

Apakah kesepakatan ini sudah menghasilkan investasi?
Belum. MoU ini masih bersifat kerangka kerja awal untuk studi dan diskusi lanjutan. Belum ada komitmen investasi yang mengikat secara komersial antara ketiga pihak.

Reporter: Syamsudin Rasyid
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top