Rupiah Tembus Rp 17.724 per Dolar AS, Level Terlemah Sepanjang Sejarah di Tengah Tekanan Global

Penulis: Zulkarnain Hamid  •  Selasa, 19 Mei 2026 | 11:26:02 WIB
Rupiah melemah ke level Rp 17.724 per dolar AS, terlemah sepanjang sejarah.

SUMATERA SELATAN — Sepanjang tahun berjalan, depresiasi rupiah telah mencapai 6,25%. Kondisi ini menjadikan mata uang Garuda sebagai salah satu yang terlemah di Asia, sejalan dengan mayoritas mata uang regional yang kompak tertekan oleh penguatan dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,74%, baht Thailand turun 0,18%, dan yen Jepang melemah 0,08%.

Meredanya Ketegangan Iran Jadi Angin Segar Terbatas

Analis Doo Financial Lukman Leong menilai, salah satu faktor yang sempat meredakan tekanan adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan terhadap Iran. Sentimen ini memberi ruang bagi pelaku pasar untuk sedikit bernapas, meski tidak cukup kuat untuk membalikkan arah pelemahan rupiah.

"Potensi penguatan rupiah masih ada, tetapi sangat terbatas. Pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah," ujar Lukman.

BI Rate Jadi Sorotan: Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga

Investor kini mengarahkan pandangan ke hasil RDG Bank Indonesia yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Pasar memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan demi menahan laju pelemahan rupiah di tengah derasnya arus modal asing keluar. Ekspektasi ini membuat pelaku pasar cenderung wait and see.

Lukman memperkirakan, dalam perdagangan hari ini, rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS. Ia menambahkan, kenaikan suku bunga memang menjadi alat yang biasa digunakan untuk menstabilkan kurs, tetapi efektivitasnya sangat tergantung pada respons pasar global.

Yang Terjadi di Balik Layar: Investor Menunggu Kejelasan

Di lantai bursa, tekanan jual terhadap aset berdenominasi rupiah masih terlihat. Investor asing cenderung mengurangi eksposur mereka sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter domestik. Di sisi lain, tekanan eksternal dari penguatan dolar AS dan ketidakpastian perang dagang masih menjadi momok utama.

Bagi pelaku bisnis yang memiliki utang dalam dolar AS, situasi ini jelas menjadi pukulan. Biaya impor membengkak, sementara daya beli masyarakat yang sudah tergerus inflasi semakin tertekan. Skenario terburuk adalah jika rupiah terus merosot dan memaksa BI mengambil langkah lebih agresif.

Investasi mengandung risiko. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor setelah mempertimbangkan profil risiko masing-masing.

Reporter: Zulkarnain Hamid
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top