Adidas dan FIFA Dituduh Eksploitasi Pekerja Bola Piala Dunia 2026 di Pakistan

Penulis: Redaksi  •  Senin, 04 Mei 2026 | 01:10:01 WIB

Adidas dan FIFA menghadapi tuduhan eksploitasi tenaga kerja manufaktur bola di Pakistan menjelang gelaran Piala Dunia 2026. Laporan terbaru mengungkap ketimpangan drastis antara upah buruh yang sangat rendah dibandingkan harga jual bola resmi di pasar global.

Isu kemanusiaan kembali membayangi persiapan turnamen sepak bola terbesar sejagat. Adidas dan FIFA kini menjadi sasaran kritik tajam setelah muncul laporan mengenai kondisi kerja di balik produksi bola resmi Piala Dunia 2026.

Para pekerja manufaktur di Pakistan dilaporkan hanya menerima bayaran yang sangat minim untuk memproduksi bola canggih tersebut. Padahal, produk yang mereka hasilkan dipasarkan dengan harga selangit di toko-toko olahraga seluruh dunia.

Ketimpangan Upah Buruh dan Harga Jual Global

Berdasarkan laporan dari lembaga Labour Behind the Label, bola resmi Piala Dunia 2026 yang diberi nama Adidas Trionda dibanderol seharga 130 poundsterling atau sekitar Rp3 juta per unit. Angka ini berbanding terbalik dengan apa yang dibawa pulang oleh para pekerja.

Buruh di Pakistan yang menjahit dan merakit bola tersebut dikabarkan hanya menerima upah sekitar 26 poundsterling. Jika dikonversi, jumlah tersebut setara dengan Rp613 ribu per minggu. Kondisi ini memicu gelombang protes terkait etika bisnis di industri olahraga.

Produksi massal ini terpusat di Sialkot, sebuah kota di Pakistan yang dikenal sebagai jantung industri bola sepak dunia. Sekitar 70 persen bola sepak yang beredar secara global lahir dari tangan-tangan terampil di wilayah ini.

Kritik Tajam Terhadap Komitmen Fair Play FIFA

Forward Group menjadi perusahaan yang menangani kontrak besar ini. Mereka telah menandatangani kesepakatan untuk memasok sekitar 10 juta bola Trionda. Namun, upah minimum pekerja di perusahaan tersebut hanya berkisar 40.000 Rupee per bulan, atau setara 106 poundsterling.

Anna Bryher dari Labour Behind the Label mengecam keras ketimpangan ini. Ia menilai Adidas dan FIFA telah gagal menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan di tengah keuntungan besar yang mereka raup dari turnamen empat tahunan tersebut.

“Bola-bola ini dijual lebih dari 100 poundsterling, tetapi anak-anak dari para pekerja yang membuatnya bahkan tidak mampu membelinya. Ini mencerminkan ketidakadilan yang nyata,” ujar Anna Bryher dalam keterangannya.

Bryher juga mempertanyakan integritas FIFA yang selalu menggaungkan prinsip "fair play". Menurutnya, prinsip keadilan tidak boleh hanya berhenti di dalam lapangan hijau, tetapi juga harus menyentuh rantai pasok produk-produk ikonik mereka.

Sialkot dan Dominasi Industri Bola Sepak Dunia

Ketergantungan merek global terhadap Sialkot memang bukan rahasia lagi. Kota ini memiliki ekosistem manufaktur yang sulit ditandingi negara lain dalam hal volume dan kecepatan produksi bola sepak berkualitas tinggi.

Namun, sorotan terhadap kesejahteraan pekerja di wilayah ini terus berulang setiap kali turnamen besar mendekat. Hingga berita ini diturunkan, Adidas maupun FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan eksploitasi tersebut.

Piala Dunia 2026 sendiri akan diselenggarakan di tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Isu upah buruh ini diprediksi akan terus bergulir seiring dengan semakin dekatnya jadwal kick-off turnamen.

Reporter: Redaksi
Back to top