Kebakaran Rawa Gambut Sumatera Selatan Ancam 5,3 Juta Warga Lahan Basah, Risiko Ikan Hilang 67,9 Persen

Penulis: Syamsudin Rasyid  •  Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:01:31 WIB
Warga melintasi kawasan rawa gambut yang mengering di Sumatera Selatan.

PALEMBANG — Lahan basah yang selama puluhan tahun menjadi sumber protein dan penghasilan warga Sumatera Selatan kini berada di bawah tekanan karhutla yang tak kunjung tuntas. Sekitar 60 persen dari 8,4 juta jiwa penduduk provinsi ini tinggal dekat kawasan lahan basah, sehingga dampak kebakaran tidak berhenti pada kabut asap.

Irkhamiawan Ma'ruf, peneliti ikan air tawar dari Universitas Muhammadiyah Palembang, menjelaskan bahwa rawa gambut punya pori-pori tempat ikan menempelkan telur sekaligus berlindung setelah menetas. Ketika api membakar lapisan gambut, fungsi ekologis itu hilang.

"Ikan akan kehilangan tempat pemijahan sekaligus pengasuhan," kata Irkhamiawan, Jumat (16/10/26).

Berapa Besar Penurunan Populasi Ikan Akibat Karhutla?

Rujukan ilmiah untuk kekhawatiran itu datang dari penelitian Harrison dan kolega yang terbit di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) berjudul Impacts of fire and prospects for recovery in a tropical peat forest ecosystem. Studi di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah, itu menganalisis perubahan ekosistem berdasarkan data pengamatan jangka panjang.

Hasilnya, kebakaran besar berkaitan dengan penurunan kemunculan ikan. Analisis temporal menunjukkan penurunan estimasi probabilitas kemunculan ikan sebesar 67,9 persen. Kelompok ikan spesialis hutan turun 73,5 persen, sedangkan ikan bernilai komersial turun 29,2 persen.

"Asosiasi nonlinier yang konsisten dengan frekuensi kebakaran, menunjukkan tingkat toleransi terhadap kebakaran hingga titik infleksi, yaitu hunian mulai menurun seiring peningkatan frekuensi kebakaran," tulis penelitian tersebut.

Di tingkat provinsi, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat produksi perikanan tangkap dari perairan umum seperti sungai dan rawa sekitar 73 ribu ton. Angka itu turun sekitar 1.500 ton dari tahun sebelumnya.

"Ini sangat mungkin disebabkan faktor kebakaran di lahan gambut. Hal lainnya seperti krisis iklim, atau tercemarnya air akibat aktivitas perkebunan skala besar," kata Irkhamiawan.

Tradisi Bekeluk Warga Tempirai yang Mulai Terancam

Bagi warga Desa Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), lahan basah adalah lumbung harian. Sadikin, warga setempat, bercerita bahwa saat musim penghujan rawa pasang dan ikan besar seperti gabus, toman, kelik, serko, serta bujuk bermigrasi memijah telur.

"Ikan yang diambil yang berukuran besar, bisa puluhan ekor, cukup untuk makan, dan sisanya dijual," kata Sadikin, akhir Juli 2026 lalu.

Saat kemarau, warga mencari ikan di sela akar pohon terendam atau lebung yang masih menyisakan air di tengah rawa gambut mengering. Tradisi itu disebut bekeluk. "Biasanya dapat gabus, keli, atau betok," ujarnya.

Sejak karhutla berulang di Sumatera Selatan mulai 1997, situasi berubah. Warga tidak hanya menghadapi turunnya tangkapan ikan dan krisis pangan, tetapi juga kebun mereka terbakar serta ancaman ISPA akibat kabut asap.

"Sungguh sengsara kami seperti ini."

Setelah kebakaran, ikan sulit ditemukan. "Tidak tahu lari kemana (ikan), sementara yang berlindung di gambut, mungkin mati karena terbakar," kata Sadikin.

Irkhamiawan menyebut sejumlah jenis ikan berlindung di bawah gambut selama kemarau, antara lain betok, keluarga gabus, dan keli. "Kemungkinan terburuk, jika api mencapai kedalaman beberapa meter, maka ikan akan mati."

Tujuh Tuntutan KOMMA Sumatera Selatan

Desakan penyelesaian datang dari Koalisi Masyarakat Melawan Asap (KOMMA) Sumatera Selatan. Koalisi itu menggelar aksi dan mengajukan tujuh tuntutan terkait karhutla yang terus berulang, termasuk belum tuntasnya tanggung jawab korporasi dan pembenahan tata kelola lingkungan.

Rantai dampaknya jelas: gambut terbakar, tempat pemijahan hilang, tangkapan ikan menurun, lalu sumber protein dan pendapatan warga lahan basah ikut tergerus. Bagi 5,3 juta jiwa yang hidup dekat lahan basah, persoalan karhutla bukan sekadar bencana musiman, melainkan ancaman jangka panjang terhadap pangan dan ekonomi rumah tangga.

Reporter: Syamsudin Rasyid
Sumber: mongabay.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top