SUMATERA SELATAN — Film Khadam garapan sutradara Shamyl Othman resmi tayang dengan durasi 118 menit dan mengangkat latar Malaysia tahun 1957. Naskahnya ditulis Fariza Azlina, yang juga mantan aktris dekade 90-an, dengan pendekatan cerita yang menyentuh isu feminisme dan perlawanan terhadap kekerasan domestik. Aghniny Haque dan Remy Ishak menjadi poros utama film ini.
Khadam bukan film horor yang mengandalkan jumpscare murah. Film Malaysia ini justru mencoba membangun teror lewat atmosfer rumah terisolasi di tengah hutan, tanpa tetangga, dengan jumlah pemain yang sangat sedikit. Sayangnya, ambisi itu tidak selalu berjalan mulus.
Kisah Khadam dibuka dengan tempo yang menegangkan. Shamyl Othman mengatur visual sedemikian rupa sehingga penonton langsung masuk ke suasana. Latar waktu 1957, tahun ketika Malaysia lahir sebagai negara, menjadi fondasi cerita yang cukup unik.
Fariza Azlina menulis naskah ini dengan memasukkan pesan feminisme, perlawanan terhadap budaya patriarki, dan inklusivitas lewat penggunaan bahasa isyarat. Gagasan itu muncul dalam situasi serba terbatas, di mana tokoh 'khadam' dibisukan oleh pihak otoritarian.
Intensitas Khadam dimulai sangat tinggi di awal, lalu jatuh dan berjalan lambat hingga klimaks. Fariza terlihat terlalu fokus menciptakan teror dedemit dari seluruh penjuru rumah, alih-alih menjaga ritme cerita tetap stabil.
Durasi 118 menit terasa berlebihan. Seandainya tidak mengulur waktu, film ini bisa dipadatkan menjadi 90 menit atau kurang. Unsur horor yang sebenarnya sudah efisien, seperti lokasi terisolir dan pemain minim, jadi kurang termanfaatkan.
Shamyl sebagai sutradara membangun semua yang ditulis Fariza secara maksimal tanpa tebang pilih. Hasilnya, Khadam terasa seperti ceramah profesor yang kepanjangan dan membuat mahasiswanya mengantuk.
Sinematografi Harris Hue Abdullah, desain produksi, kostum, dan tata rias sebenarnya sudah apik. Namun color grading yang terlalu gelap dan kuning justru mengganggu. Latar waktu 1957 sudah terwakili lewat kostum, properti, dan tata rias, jadi tidak perlu dipaksakan lewat filter visual.
Jika Shamyl lebih fokus menampilkan gambar senatural mungkin dan membiarkan editor serta tim visual efek bermain di efek tertentu, hasilnya bisa jauh lebih menarik.
Aghniny Haque dan Remy Ishak menjadi center point yang maksimal. Chemistry keduanya, baik dalam spektrum cinta maupun benci, terjalin apik. Aghniny tampil berani dengan berperan membisu dan berbicara lewat bahasa isyarat, bahkan main parang tanpa alas kaki.
Penampilan ini jadi pembuktian proses kerja keras Aghniny sejak debut pada 2018, setelah sebelumnya berkecimpung di dunia taekwondo. Meski filmografinya didominasi horor, perempuan 29 tahun itu punya jangkauan luas dari drama hingga laga.
Khadam membuka perspektif baru bagi kolaborasi perfilman sesama negara Asia Tenggara. Kemiripan budaya dan sejarah membuat kerja sama semacam ini terasa lebih orisinal dibanding sekadar mengadaptasi ulang film dari negara tetangga.
Bagi penonton Indonesia, cerita Khadam terasa dekat karena konteks sosial dan budayanya mirip. Film ini bisa jadi contoh bagaimana kolaborasi regional menghasilkan karya yang tetap punya identitas sendiri.
Khadam adalah film horor dengan gagasan kuat yang sayangnya kalah oleh eksekusi tempo. Kekuatan akting Aghniny Haque dan keberanian mengangkat isu sosial membuat film ini tetap layak disimak.