Honda Tolak Kejar Harga Murah Mobil China, Kualitas Jadi Taruhan

Penulis: Ahmad Syukri  •  Rabu, 16 September 2026 | 10:04:31 WIB
Presiden dan CEO American Honda Eiji Fujimura menegaskan kualitas tetap menjadi prioritas Honda di tengah persaingan harga.

SUMATERA SELATAN — Honda menegaskan tidak akan mengorbankan kualitas demi mengejar harga murah mobil-merek China, dengan menjadikan reputasi dan kepercayaan konsumen sebagai prioritas utama. Strategi ini disampaikan di tengah tekanan pasar Asia dan Eropa yang semakin ketat, di mana konsumen punya banyak pilihan dan masalah yang lambat ditangani bisa membuat mereka pindah merek.

Presiden sekaligus CEO American Honda, Eiji Fujimura, menyatakan persaingan dengan merek China dan India kini menuntut Honda bergerak lebih cepat, khususnya di bidang software dan sistem bantuan berkendara (ADAS). Namun menurutnya, kecepatan itu tidak boleh mengorbankan kualitas yang selama ini menjadi identitas Honda.

"Perubahan teknologi, terutama dalam hal software, terjadi sangat cepat saat ini. Tentu kami harus bersaing dengan China dan India dalam hal software, ADAS, dan sebagainya. Namun untuk bersaing dengan mereka, pertama-tama kami harus berpikir, 'Siapa Honda?'," ujar Fujimura, disitat dari The Drive, Selasa (15/9).

Kualitas Jadi Identitas, Bukan Sekadar Klaim Marketing

Fujimura menegaskan setiap tahapan produksi harus dipastikan memenuhi standar sebelum berlanjut ke tahap berikutnya. Honda tidak ingin kecepatan pengembangan membuat kualitas kendaraan dikorbankan demi mengejar harga bersaing.

"Kami memastikan setiap proses menjamin mobil atau komponennya sudah baik dari sisi kualitas dan tidak berpindah ke tahap berikutnya sebelum memastikan kualitas tahap sebelumnya," tuturnya.

Pendekatan ini berbeda dari strategi sejumlah merek China yang agresif menekan harga demi merebut pangsa pasar. Honda memilih bertahan pada reputasi brand dan kepercayaan konsumen sebagai fondasi jangka panjang.

Departemen Kualitas Honda Berdiri Sendiri

Executive Vice President Honda Motor, Noriya Kaihara, mengungkapkan bahwa divisi kualitas Honda dibuat terpisah dari departemen lainnya. Pemisahan ini bertujuan agar kualitas tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan.

"Departemen kualitas sepenuhnya terpisah dari departemen lain. Artinya, kualitas selalu menjadi perhatian nomor satu Honda. Setiap teknologi baru selalu melewati departemen terpisah ini," ungkap Kaihara.

Struktur organisasi semacam ini memungkinkan evaluasi independen terhadap setiap komponen dan teknologi baru sebelum masuk ke lini produksi massal. Honda tampaknya ingin memastikan tidak ada kompromi yang lolos ke konsumen.

Respons Cepat saat Masalah Muncul

Selain kualitas produk, Honda menilai kecepatan menangani masalah pasca-penjualan sama pentingnya. Kaihara menyebut penundaan perbaikan bisa berdampak buruk bagi loyalitas pelanggan.

"Jika Anda membiarkan pelanggan memiliki kendaraan dengan kualitas buruk dan kemudian menunda langkah perbaikannya, dampaknya akan sangat buruk," kata Kaihara.

Pernyataan ini relevan dengan kondisi pasar otomotif Asia dan Eropa yang semakin kompetitif. Konsumen kini punya banyak alternatif, sehingga satu masalah yang tidak segera diselesaikan bisa membuat mereka beralih ke merek lain, termasuk merek China yang menawarkan harga lebih agresif.

Yang Perlu Diperhatikan

  • Honda belum menyebut angka atau target spesifik terkait percepatan pengembangan software dan ADAS
  • Belum ada penjelasan bagaimana strategi ini diterjemahkan ke model-model yang dijual di Indonesia
  • Klaim kualitas perlu dibuktikan lewat rekam jejak recall dan kepuasan konsumen jangka panjang, bukan hanya pernyataan eksekutif
  • Persaingan harga dengan merek China tetap menjadi tantangan nyata di segmen mobil listrik dan SUV murah

Pernyataan Fujimura dan Kaihara menunjukkan Honda sadar posisinya tengah diuji. Mereka memilih jalur konservatif: tidak ikut arus perang harga, tapi mempertaruhkan reputasi sebagai pembeda. Apakah strategi ini cukup bertahan di pasar yang makin sensitif harga, waktu yang akan menjawab.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top