SUMATERA SELATAN — Quality time membangun ikatan emosional, kepercayaan, dan kesehatan mental anak hingga dewasa. Kabar baiknya, ibu tak perlu biaya besar atau persiapan rumit untuk melakukannya.
Nur Ria menjelaskan quality time berfungsi membangun ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak. Lewat interaksi positif, rasa percaya dan kedekatan dalam keluarga terjalin lebih baik.
Anak yang terbiasa berkomunikasi terbuka dengan orang tuanya cenderung punya rasa percaya diri lebih tinggi. Mereka lebih berani menyampaikan pendapat dan lebih mudah berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Perhatian dan rasa dicintai selama quality time juga efektif menurunkan tingkat stres serta kecemasan anak. Ini menjadi fondasi kesehatan mental mereka di masa depan.
Bermain bersama tidak harus pakai mainan mahal. Cukup duduk di lantai, ikut menyusun balok, atau bermain peran sesuai imajinasi anak.
Lewat permainan, anak belajar berinteraksi dan merasa kehadiran ibu benar-benar nyata, bukan sekadar ada di ruangan yang sama.
Pilih tontonan yang disukai anak, lalu tonton bersama sambil sesekali mengobrol tentang ceritanya. Momen ini membuka percakapan ringan yang sering sulit dimulai di waktu lain.
Meja makan bisa jadi tempat paling sederhana untuk terhubung. Simpan dulu ponsel, lalu tanyakan hal-hal kecil tentang hari anak di sekolah.
Kebiasaan ini melatih anak bercerita dan merasa pendapatnya didengar.
Sepuluh menit sebelum tidur cukup untuk mendengar cerita anak hari itu. Suasana tenang menjelang tidur membuat anak lebih terbuka menceritakan apa yang dirasakannya.
Jalan pagi keliling komplek, bersepeda, atau sekadar bermain bola di halaman bisa jadi pilihan. Selain menyehatkan, aktivitas fisik bersama melepas energi dan membuat anak lebih rileks.
Perhatikan hal yang paling disukai anak, lalu dampingi tanpa mengatur. Entah menggambar, menyusun puzzle, atau merawat tanaman, kehadiran ibu membuat anak merasa dihargai.
Tidak perlu liburan jauh. Menginap di kamar dengan tenda kecil atau berkemah di halaman rumah bisa jadi petualangan seru yang diingat anak.
Nur Ria menyebut kebersamaan saat staycation atau berkemah juga bisa menjadi pilihan quality time yang bermakna.
Membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga memang menantang. Namun Nur Ria mengingatkan kehadiran orang tua, baik secara fisik maupun emosional, sangat menentukan tumbuh kembang anak secara optimal.
Dengan perencanaan yang baik, pembatasan penggunaan teknologi secara bijak, serta komitmen mengutamakan hubungan keluarga, orang tua yang sibuk tetap bisa menciptakan ikatan emosional yang kokoh dengan anak.
Bila anak tampak menarik diri, mudah cemas berlebihan, atau sulit terbuka dalam waktu lama, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog anak. Quality time adalah fondasi, tetapi dukungan profesional tetap diperlukan saat ada tanda yang mengkhawatirkan.
Mulai dari satu kebiasaan kecil malam ini — mengobrol sepuluh menit sebelum tidur, misalnya. Dari situ ikatan emosional dengan anak tumbuh, dan kenangan indah itu akan ia bawa sampai dewasa.