SUMATERA SELATAN — Mutasi kendaraan adalah proses pemindahan berkas dan data administrasi kendaraan dari satu wilayah ke wilayah lain. Prosedur ini dibagi dua jenis, yakni mutasi satu daerah yang masih dalam provinsi yang sama dan mutasi beda provinsi. Keduanya mengikuti alur serupa, hanya berbeda di tingkat Samsat yang menangani.
Bagi pemilik yang baru pindah domisili, pengurusan dokumen ini sebaiknya tidak ditunda. Berikut rincian persyaratan, tahapan, biaya, dan konsekuensi jika dibiarkan.
Pemohon perlu melengkapi seluruh dokumen berikut sebelum mendatangi Samsat. Berkas yang kurang satu saja bisa membuat proses mundur ke antrean ulang.
Kendaraan atas nama perusahaan atau badan hukum memerlukan tiga berkas ekstra. Ketiganya berfungsi memastikan pengurus yang menandatangani memang berwenang mewakili institusi.
Prosedur mutasi dijalankan berurutan, dimulai dari Samsat asal lalu dilanjutkan ke Samsat tujuan. Pemohon membawa kendaraan langsung untuk keperluan cek fisik.
Samsat asal (mutasi keluar). Pemohon membawa kendaraan ke Samsat asal untuk cek fisik, menyerahkan berkas persyaratan, membayar biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), lalu menerima berkas mutasi keluar dan surat fiskal daerah.
Samsat tujuan (mutasi masuk). Berkas mutasi keluar diserahkan ke Samsat di wilayah domisili baru. Cek fisik ulang bisa diminta. Setelah biaya administrasi dibayar, pemohon menerima STNK dan plat nomor baru.
Komponen biaya mutasi mencakup Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) sebesar 1 persen dari harga kendaraan. Selain itu ada biaya cek fisik, fiskal daerah, admin mutasi, serta PNBP STNK dan BPKB.
Total yang dibayarkan bergantung pada nilai jual kendaraan dan kebijakan Samsat setempat. Untuk kendaraan dengan harga Rp 200 juta, komponen BBN-KB saja sudah menyentuh Rp 2 juta belum termasuk pos lainnya.
Pemilik yang enggan mengurus mutasi saat pindah domisili akan berhadapan dengan sejumlah konsekuensi. Berikut dampak utamanya.
Kendaraan dianggap tidak patuh aturan lalu lintas di wilayah baru. Sanksi administrasi bisa muncul saat razia jalan raya maupun ketika hendak membayar pajak.
Pembayaran pajak tetap harus dilakukan di daerah asal. Jika terlewat, pemilik dikenakan denda keterlambatan. Status kendaraan di alamat lama juga berisiko terkena skema pajak progresif bila terdeteksi ada kepemilikan kendaraan lain di alamat tersebut.
Harga jual kendaraan turun karena calon pembeli umumnya enggan membeli unit yang berkasnya belum disesuaikan. Mereka tidak mau menanggung kerumitan balik nama sendiri.
Setiap periode pembayaran pajak atau perpanjangan STNK tiba, pemilik wajib kembali ke Samsat daerah asal. Prosedur ini menguras waktu, tenaga, dan ongkos perjalanan.
BPKB menjadi opsi jaminan jika ingin melakukan pinjaman. Namun bila belum dimutasi sesuai domisili baru, dokumen itu tidak dapat dijadikan jaminan untuk pengajuan pinjaman, kecuali pengajuan dilakukan di daerah asal kendaraan.
Mengingat rentetan dampak tersebut, pengurusan mutasi sebaiknya dilakukan segera setelah Surat Keterangan Pindah Domisili diterbitkan. Semakin lama ditunda, semakin besar biaya dan kerumitan yang menumpuk.