SUMATERA SELATAN — Kekalahan dari Arsenal di Stadion Emirates, Minggu (14/9), bukan sekadar kehilangan tiga poin bagi Chelsea. Hasil itu memperlihatkan kerentanan sistem yang selama ini coba ditutupi Alonso lewat pemilihan personel yang tak lazim, seperti menempatkan dua bek kanan di lini tengah.
Strategi itu dianggap sebagai pengalihan perhatian. Alih-alih membahas kelemahan taktis 3-4-3, perbincangan publik justru teralihkan pada posisi Malo Gusto dan Reece James yang bermain sebagai gelandang.
Mikel Arteta membongkar kelemahan Chelsea dari dua sisi. Bek kiri Riccardo Calafiori bergerak masuk ke tengah, sementara Kai Havertz turun dari posisi ujung tombak. Hasilnya, Arsenal mendominasi lini tengah dengan keunggulan jumlah 5 lawan 2 yang berulang kali membelah pertahanan Chelsea.
Gol kemenangan Arsenal lahir dari pola tersebut. Havertz turun ke ruang kosong untuk memulai serangan, kemudian umpan silang Tzolis yang memancing pergerakan Calafiori membuat Havertz dan Martin Odegaard bebas di belakang dua gelandang Chelsea yang kewalahan.
Keunggulan jumlah itu terus terjadi sepanjang laga, bahkan saat pertahanan Chelsea sudah dalam posisi rapi. Lima pemain Arsenal—tiga gelandang plus Calafiori dan Havertz—memenuhi area sentral dan membuat Chelsea tak punya jawaban.
Chelsea tercatat hanya memegang 36,3% penguasaan bola, hampir separuh dari milik Manchester City (71,9%) yang memimpin klasemen. Alonso sejatinya bukan pelatih yang anti-penguasaan bola. Bayer Leverkusen miliknya musim 2023/24 rata-rata memegang 62,1% penguasaan bola.
Artinya, angka Chelsea musim ini bukan bagian dari rencana. Ini cerminan masalah sistemik yang tak bisa ditutupi oleh taktik pengalihan perhatian semacam menempatkan bek kanan di lini tengah.
Antonio Conte pernah sukses memakai 3-4-3 saat membawa Chelsea juara Premier League 2016/17. Namun ia punya N'Golo Kante yang bisa bekerja untuk dua pemain. Chelsea kini kehilangan Enzo Fernandez dan gagal menggantinya, sebuah pukulan telak.
Perbedaan zaman juga krusial. Pada 2017, Premier League masih menjadi gurun taktik. Tim-tim bermain 4-4-2, menekankan duel individual, dan sama sekali asing dengan pressing terstruktur atau positional play. Kini, tidak ada bukti bahwa 3-4-3 bisa bersaing di papan atas Premier League modern.
"Itulah gunung yang harus didaki Alonso. Jika Gusto dan James adalah duo andalan yang ia andalkan, ia akan mendakinya dengan satu tangan terikat di belakang punggung," demikian analisis yang beredar di kalangan pengamat taktik.