Tim gabungan BPBD Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, berhasil memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda lima desa dan kelurahan di empat kecamatan. Area mineral semak belukar yang terbakar mencapai lebih dari delapan hektare dan seluruh titik api dilaporkan telah padam total.
BATURAJA — Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, akhirnya dapat dijinakkan setelah tim gabungan diterjunkan ke lima lokasi berbeda. Kepala BPBD OKU Januar Efendi memastikan seluruh titik api telah padam total dan tim masih melakukan pendinginan untuk mencegah munculnya kembali percikan api.
Berdasarkan pantauan aplikasi SiPongi pada Sabtu (22/8) pukul 20.00 WIB, titik panas terdeteksi di lima wilayah yang tersebar di empat kecamatan. Karhutla melanda Desa Keban Agung (Kecamatan Semidang Aji), Desa Lubuk Batang Lama (Kecamatan Lubuk Batang), Desa Batukuning (Kecamatan Baturaja Barat), serta Desa Terusan dan Desa Tanjung Baru (Kecamatan Baturaja Timur).
Area yang terbakar merupakan lahan mineral yang ditumbuhi semak belukar. Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui dan tengah diselidiki oleh pihak berwenang.
"Penyebab kebakaran lahan hingga kini belum diketahui," kata Januar Efendi saat dihubungi dari Palembang, Senin.
Penanganan karhutla tidak dilakukan sendiri oleh BPBD. Sebanyak enam instansi dan elemen masyarakat dikerahkan untuk memadamkan api di seluruh titik panas.
Tim gabungan tersebut meliputi personel BPBD OKU, Dinas Pemadam Kebakaran, PDAM Tirta Raja, TNI, Polri, serta dibantu oleh masyarakat setempat. Mereka membawa lima truk tangki air dan berbagai peralatan pendukung lainnya untuk memastikan api tidak menyebar lebih luas.
Upaya pemadaman dilakukan secara masif untuk mencegah dampak lanjutan berupa bencana kabut asap yang kerap mengganggu aktivitas warga. Setelah api berhasil dipadamkan, tim gabungan masih bersiaga di lokasi kejadian.
"Hingga pagi ini seluruh titik api sudah padam total. Tim gabungan masih di lokasi untuk melakukan pendinginan guna mencegah munculnya kembali titik api yang dapat memicu karhutla," tegas Januar Efendi.
Langkah pendinginan ini dinilai krusial mengingat kondisi lahan gambut dan semak belukar yang mudah terbakar kembali jika masih terdapat bara tersembunyi di bawah permukaan.