Gubernur Sumsel Herman Deru Sebut Kelestarian Hutan di Pagar Alam Bukti Nyata Jaga Debit Air untuk PLTA

Penulis: Zulkarnain Hamid  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 13:06:31 WIB
Gubernur Sumsel Herman Deru menilai kelestarian hutan di Pagar Alam sebagai bukti nyata terjaganya debit air untuk mendukung operasional PLTA.

BANYUASINHerman Deru mengajak seluruh pihak meneladani keberhasilan Kota Pagar Alam dalam menjaga kawasan hutan di wilayah hulunya. Berkat tutupan hutan yang tetap terjaga, debit air di daerah tersebut mampu mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air yang memasok sebagian besar kebutuhan listrik warga setempat.

“Terjaganya kawasan hutan memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat. Apa yang terjadi di Pagar Alam menjadi salah satu contoh bahwa kelestarian hutan memiliki hubungan langsung dengan keberlangsungan sumber daya air,” kata Herman Deru dalam sambutannya di sela peresmian Persemaian Sriwijaya Kemampo di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Banyuasin III, Jumat (7/8/2026).

Hutan Jadi Benteng Alami Bencana di Sumsel

Orang nomor satu di Sumsel itu menekankan bahwa hutan bukan sekadar kawasan ekologis, melainkan bagian vital dari kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah. Kekayaan alam berupa habitat flora dan fauna ini juga berperan sebagai benteng alami menghadapi potensi bencana.

Herman Deru menyebut kondisi Sumsel yang relatif terhindar dari dampak sejumlah bencana besar tidak lepas dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan. Ia pun mengapresiasi masyarakat di sekitar kawasan hutan yang dinilai memiliki kesadaran tinggi.

“Petugas di lapangan tentu memiliki peran penting, tetapi masyarakat adalah bagian yang tidak kalah menentukan. Mereka telah menjaga hutan karena menyadari bahwa keberadaan hutan juga berkaitan langsung dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Lubuk Larangan dan Hutan Larangan: Modal Sosial Pelestarian

Menurut Herman Deru, masyarakat Sumsel sejak lama memiliki kearifan lokal dalam menjaga lingkungan. Tradisi lubuk larangan, misalnya, dilakukan warga untuk melindungi habitat ikan di perairan tertentu. Ada pula kawasan hutan larangan yang dijaga berdasarkan kesadaran kolektif akan pentingnya kelestarian.

Kesadaran tersebut, lanjut dia, kini diperkuat dengan aturan dan penegakan hukum agar upaya perlindungan berjalan berkelanjutan. Namun, pengawasan masih menghadapi tantangan serius, terutama keterbatasan jumlah personel Polisi Kehutanan (Polhut).

Ia berharap pemerintah pusat menambah personel Polhut mengingat luasnya wilayah yang diawasi, termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang membentang di beberapa provinsi. “Dengan luas kawasan yang harus diawasi, tentu diperlukan dukungan personel yang memadai. Penambahan Polhut akan membantu pengawasan dan perlindungan hutan agar lebih maksimal,” jelasnya.

Karhutla dan Tantangan Lahan Gambut 1,4 Juta Hektare

Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi perhatian serius. Sumsel memiliki kawasan gambut seluas sekitar 1,4 juta hektare yang rawan terbakar, baik akibat aktivitas manusia maupun faktor alam. Herman Deru menegaskan pencegahan harus menjadi langkah utama dengan membangun kesadaran kolektif menjaga kawasan agar tidak mudah terbakar.

Ia juga mencatat praktik perladangan berpindah yang dulu dikenal di sejumlah wilayah kini sudah ditinggalkan mayoritas petani. Sebagian besar petani telah mengelola lahan secara menetap, sehingga pengendalian aktivitas pembukaan lahan bisa dilakukan lebih baik.

Rasa Memiliki Kunci Keberlanjutan

Pemprov Sumsel bersama pemerintah kabupaten dan kota terus mendorong masyarakat memiliki kepedulian sekaligus rasa memiliki terhadap lingkungan. Pendekatan ini dinilai penting karena pelestarian hutan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata, tetapi butuh keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

Reporter: Zulkarnain Hamid
Sumber: viralsumsel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top