PRABUMULIH — Kepala BPBD Kota Prabumulih Sriyono menjelaskan bahwa kebakaran lahan memang terjadi di sejumlah wilayah kota tersebut, namun penanganan cepat bersama TNI-Polri serta dukungan pemerintah kecamatan, kelurahan, dan desa menjadi bagian penting pengendaliannya. Berdasarkan pemantauan yang disampaikan BPBD, Prabumulih tercatat tidak memiliki titik panas pada saat pemantauan dilakukan.
"Prabumulih zero hotspot. Bisa download aplikasinya di Google Play, kemudian buka dan lihat langsung," ujar Sriyono.
Luas Karhutla 7,52 Hektare, Lebih Rendah dari Sejumlah Daerah di Sumsel
Data aplikasi SiPongi+ Kementerian Kehutanan yang dirujuk BPBD Prabumulih mencatat luas karhutla di kota itu 7,52 hektare. Angka tersebut disebut lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah lain di Sumatera Selatan, termasuk Palembang yang tercatat 1,51 hektare.
BPBD mengingatkan bahwa data luasan kebakaran dan data hotspot adalah dua indikator berbeda. Hotspot adalah indikasi titik panas yang terdeteksi satelit dan tidak selalu berarti kebakaran yang terkonfirmasi di lapangan, sedangkan luasan karhutla menggambarkan area terbakar berdasarkan inventarisasi atau pelaporan.
Karena itu, warga diminta memperhatikan tanggal pembaruan data, periode pengamatan, serta informasi penanganan kebakaran di lapangan sebelum menarik kesimpulan.
Asap Diduga Terbawa Angin dari Kabupaten Tetangga
Sriyono mengarahkan masyarakat mengakses situs NASA Worldview melalui tautan https://worldview.earthdata.nasa.gov/ untuk mengamati pergerakan asap dan kondisi atmosfer. Situs itu menyediakan visualisasi citra satelit permukaan bumi, termasuk sejumlah indikator terkait kebakaran, sesuai produk data dan tanggal pengamatan yang dipilih.
Berdasarkan pengamatan yang disampaikan BPBD, kabut asap yang mencapai Prabumulih diduga terbawa pergerakan angin dari wilayah kabupaten tetangga yang mengalami karhutla.
"Kabut asap di Prabumulih, hasil pengamatan website tersebut karena asap karhutla terbawa angin hingga akhirnya ke Prabumulih dari kabupaten tetangga," beber Sriyono.
Citra Satelit dan Arah Angin Harus Dibaca Bersama
Untuk memastikan sumber asap secara lebih akurat, BPBD menyebut perlu pencocokan citra satelit, arah dan kecepatan angin, waktu kejadian, serta kondisi atmosfer pada periode yang sama. Citra satelit dan informasi arah angin mesti dibaca bersama agar dugaan asal asap tidak disimpulkan hanya dari keberadaan titik panas di suatu daerah.
BPBD berharap masyarakat memanfaatkan sumber informasi resmi sebelum menyimpulkan penyebab kabut asap di Kota Nanas. Data karhutla lewat SiPongi+ dan citra satelit NASA Worldview dapat menjadi bahan pembanding untuk memahami kondisi kebakaran serta kemungkinan pergerakan asap antardaerah.
"Dalam memberikan informasi kita memakai data jelas dan akurat, sehingga tidak terjadi disinformasi yang meresahkan masyarakat Prabumulih," tutup Sriyono.
Penelusuran penyebab kabut asap perlu dilakukan berdasarkan data yang sesuai waktu kejadian dan didukung hasil pemantauan lapangan. Asap dapat bergerak melintasi batas administrasi wilayah, sehingga kesimpulan soal sumbernya tidak cukup hanya berdasar keberadaan titik panas di satu daerah.