SUMATERA SELATAN — Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mendapat penugasan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk mencari solusi kebutuhan air dalam pengembangan data center kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. Penugasan itu menyusul pesatnya pembangunan pusat data yang menuntut pasokan air dan energi berskala besar. Dradjad menilai persoalan ini tidak bisa ditawar karena AI diproyeksikan menjadi salah satu penentu kekuatan ekonomi dalam lima hingga 10 tahun mendatang.
Dradjad mengungkapkan penugasan tersebut secara terbuka. Ia menyebut kebutuhan air dan energi sebagai dua tantangan utama yang harus dijawab pemerintah sebelum industri data center AI berkembang lebih jauh. "Saya membantu beliau (Airlangga) mencari solusi untuk masalah air. Terutama masalah air, masalah energi, dan kesiapan masyarakat," ujarnya.
Air menjadi sorotan karena pusat data AI memakai cairan pendingin dalam volume besar untuk menjaga suhu server. Semakin besar kapasitas komputasi yang dibangun, semakin besar pula konsumsi air yang dibutuhkan. Indonesia belum memiliki kerangka baku soal sumber air dan daur ulangnya untuk keperluan industri digital.
Tiga Syarat Airlangga Sebelum Indonesia Jadi Basis Data Center
Sebelumnya, Airlangga membeberkan tiga syarat utama agar Indonesia bisa menjadi markas industri data center di tengah perlombaan global pengembangan AI. Ketiganya adalah ketersediaan lahan, listrik, dan air. "Kuncinya adalah ketersediaan lahan, ketersediaan listrik, dan ketersediaan air," kata Airlangga dalam keynote speech pada acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).
Airlangga menilai permintaan data center terus naik seiring negara-negara berlomba membangun infrastruktur AI. Menurutnya, Indonesia punya sejumlah modal untuk menangkap peluang itu. "Kita melihat bahwa ke depan AI itu menjadi game changer sekaligus mendirikan industri baru yaitu industri data center. Sekarang seluruh dunia sedang balapan untuk mengembangkan industri data center," ujarnya.
Bintan Sold Out, Karawang Disiapkan
Salah satu kawasan yang sudah disiapkan pemerintah adalah kawasan ekonomi khusus (KEK) digital di Bintan, Kepulauan Riau. Airlangga menyebut kawasan itu kini sudah penuh. "Indonesia dilihat memenuhi persyaratan tersebut maka kawasan ekonomi khusus yang digital di Bintan sudah dalam tanda petik sold out," jelasnya.
Karena itu, pemerintah menyiapkan ekspansi ke Karawang, Jawa Barat. Lokasi ini dinilai strategis karena dekat dengan pasar domestik. Pemerintah juga memperkuat kapasitas listrik untuk menopang industri digital dan data center. Airlangga menyebut tambahan kapasitas listrik nasional dalam dua hingga tiga tahun ke depan bisa mencapai sekitar 500 megawatt.
Dradjad: AI Penentu Kekuatan Ekonomi hingga Militer
Dradjad menempatkan AI bukan sekadar teknologi penunjang, melainkan penentu posisi suatu negara. Dalam lima hingga 10 tahun ke depan, katanya, kekuatan ekonomi, teknologi, militer, dan geopolitik akan sangat bergantung pada penguasaan AI. "Itu adalah future. Lima tahun, 10 tahun yang akan datang, kekuatan ekonomi, kekuatan teknologi, kekuatan militer, kekuatan geopolitik itu salah satunya akan sangat tergantung kepada AI," katanya.
Ia juga menyoroti kesiapan masyarakat sebagai faktor yang tak kalah penting. Pengembangan AI, menurut Dradjad, selalu punya dua sisi: peluang ekonomi dan beban sumber daya. "Seperti yang saya sampaikan tadi, teknologi baru itu selalu ada tantangan, ada dua sisi. Salah satu sisinya itu memang masalah air, masalah energi. Butuh energi banyak, butuh air banyak," ujarnya.
Dradjad belum memerinci bentuk solusi yang tengah disiapkan pemerintah. Ia menyatakan pembahasan lebih lanjut akan dilakukan setelah dirinya mulai menjalankan tugas tersebut. "Nanti saya akan bicara lebih banyak setelah saya mulai mengerjakan," ucapnya.
Data Kredibel Jadi Prasyarat Berikutnya
Airlangga menambahkan satu syarat lain yang bersifat non-fisik, yakni ketersediaan data berkualitas. Tanpa data yang kredibel, teknologi AI tidak bisa bekerja optimal. "Di mana digitalisasi ini membutuhkan data-data yang credible, tanpa data credible AI itu tidak mampu untuk meng-crawling data yang baik," pungkasnya.
Bagi pelaku industri, sinyal dari pemerintah ini membuka dua hal sekaligus: kepastian lokasi pengembangan data center di Bintan dan Karawang, serta pekerjaan rumah soal pasokan air dan listrik yang belum tuntas. Investor sektor pusat data dan energi baru terbarukan patut mencermati bagaimana solusi air dan tambahan 500 megawatt listrik itu dieksekusi dalam dua hingga tiga tahun ke depan.