PALEMBANG — Kabut asap menyelimuti Kota Palembang sejak dini hari. Pantauan aplikasi IQAir sekitar pukul 04.00 WIB menunjukkan empat wilayah masuk kategori berbahaya: Sukarami dengan indeks 551, Musi Dua Palembang 1.028, Demang 728, dan GP Plm 878.
Kondisi memburuk pada pemantauan sekitar pukul 05.00 WIB. Indeks kualitas udara Sukarami naik ke 736, Demang 716, dan GP Plm menembus 1.046. Angka Musi Dua Palembang tetap di 1.028.
Jarak pandang di sejumlah kawasan dilaporkan sulit terlihat. Pencemaran pada level ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan.
Asap Diduga Berasal dari Karhutla OKI
Kabut asap yang menyelimuti Palembang diduga masih berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI).
"Asal asap masih dari karhutla di OKI dan sekitarnya," kata Wali Kota Palembang Ratu Dewa.
Dugaan itu muncul seiring memburuknya kualitas udara dalam beberapa jam terakhir. Warga diimbau memantau perkembangan kualitas udara melalui sumber informasi resmi.
Sekolah Diminta Rapatkan Komite Sebelum Putuskan PJJ
Pemerintah Kota Palembang menyerahkan keputusan pembelajaran tatap muka atau jarak jauh ke masing-masing sekolah. Sekolah diminta melibatkan komite sebelum menentukan sikap.
"Kaitan proses belajar tatap muka dan pembelajaran jarak jauh ini sudah saya limpahkan ke sekolah masing-masing. Silakan melibatkan para komite, diajak rapat bersama untuk menentukan," ujar Ratu Dewa.
Menurutnya, posisi ISPU yang berada di level berbahaya dan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi pertimbangan utama.
"Tetapi karena sekarang posisi kita ISPU cukup tinggi di posisi berbahaya, ISPA juga mengalami peningkatan, untuk sementara harapan saya dikoordinasikan dengan stakeholder lain supaya tetap proses belajar-mengajarnya dengan menggunakan PJJ," katanya.
Kelompok Sensitif Paling Berisiko
Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan saat konsentrasi polutan tinggi. Masker wajib dipakai jika harus beraktivitas di luar rumah.
"Kondisi kualitas udara masih perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok masyarakat yang sensitif terhadap pencemaran udara. Masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk dan selalu menggunakan masker," jelas Ratu Dewa.
Evaluasi kegiatan belajar mengajar menjadi krusial untuk memastikan keselamatan peserta didik selama pencemaran udara masih di level berbahaya.