PALEMBANG — Skema pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan tatap muka (PTM) diterapkan di wilayah Palembang, Sumatera Selatan, imbas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengamat pendidikan Sumsel Abdullah Idi menyebut kebijakan itu tidak bisa dinilai hanya dari satu sisi.
Dia menilai PJJ maupun PTM sama-sama membawa risiko ketika kualitas udara memburuk. Karena itu, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) membutuhkan kesiapan siswa, guru, dan orang tua.
Kelebihan PJJ: Fleksibel dan Melatih Kemandirian Siswa
Abdullah menyebut PJJ punya nilai lebih dari sisi fleksibilitas. Siswa bisa belajar dari mana saja tanpa terikat ruang kelas.
Metode itu juga dinilai menghemat biaya transportasi. Selain itu, PJJ melatih kemandirian serta kemampuan siswa memanfaatkan teknologi.
"PJJ memiliki kelebihan karena fleksibel, siswa dapat belajar dari mana saja. Selain itu, bisa menghemat biaya transportasi dan melatih kemandirian serta kemampuan siswa dalam memanfaatkan teknologi," ujarnya, Rabu (30/9/2026).
Kendala PJJ: Jaringan Internet dan Kesenjangan Akses
Persoalan muncul ketika PJJ bergantung pada jaringan internet dan perangkat gawai. Kondisi itu membuka kesenjangan akses antara siswa di perkotaan dan daerah terpencil.
Kontrol guru terhadap proses belajar juga melemah. Kedisiplinan dan etika belajar siswa sulit dipantau ketika pembelajaran dilakukan dari rumah.
"Kontrol guru terhadap proses belajar, termasuk kedisiplinan dan etika belajar siswa, juga bisa kurang efektif ketika pembelajaran dilakukan dari rumah," katanya.
PTM Lebih Efektif, tapi Terikat Waktu dan Biaya Tambahan
Di sisi lain, PTM memungkinkan interaksi langsung antara guru dan siswa. Diskusi dan tanya jawab dinilai lebih efektif dibandingkan pembelajaran daring.
Guru pun bisa mengawasi kedisiplinan, perilaku, dan perkembangan siswa secara langsung di lingkungan sekolah. Namun, PTM terikat waktu dan tempat.
Biaya tambahan seperti transportasi dan kebutuhan jajan siswa selama di sekolah menjadi konsekuensi yang harus ditanggung keluarga.
Kabut Asap Berpotensi Sebabkan Ketertinggalan Belajar
Abdullah menilai potensi ketertinggalan belajar bisa terjadi jika proses pembelajaran terganggu kabut asap. Persoalannya tidak hanya soal metode, tetapi juga kesiapan guru, siswa, dan orang tua.
Kondisi psikologis dan kedisiplinan siswa turut menjadi perhatian. Lingkungan yang tidak mendukung akibat kualitas udara buruk dapat memengaruhi konsentrasi dan kenyamanan anak belajar.
"Musibah kabut asap tentu dapat mengganggu proses pembelajaran. Karena itu, kesiapan guru, siswa dan orang tua menjadi penting. Orang tua juga menghadapi persoalan karena harus tetap bekerja sekaligus memastikan kesehatan dan pendidikan anak tetap terjaga," katanya.
Orang Tua Menanggung Beban Ganda Selama Karhutla
PJJ di rumah juga bukan tanpa masalah. Tidak semua siswa mampu belajar serius dan fokus tanpa pengawasan langsung guru.
Sementara itu, jika PTM tetap dilakukan, persoalan kesehatan menjadi perhatian tersendiri. Tidak semua orang tua punya kemampuan ekonomi sama untuk menyediakan perlindungan kesehatan, termasuk masker bagi anak.
"Di tengah kondisi karhutla, baik PJJ maupun PTM sama-sama memiliki tantangan. Yang paling penting adalah bagaimana memastikan proses pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan anak-anak," jelasnya.
Masker Jadi Langkah Preventif saat Siswa Harus ke Sekolah
Abdullah menilai proses pembelajaran di tengah karhutla perlu disertai langkah preventif untuk melindungi kesehatan siswa. Salah satunya penggunaan masker ketika siswa harus berangkat dan pulang sekolah.
"Apapun skema pembelajarannya, baik PJJ maupun PTM, perlu ada perhatian khusus terhadap disiplin belajar dan kesehatan anak. Jika harus pergi dan pulang sekolah, misalnya, penggunaan masker menjadi salah satu upaya preventif untuk mengurangi dampak paparan kabut asap," ungkapnya.