MUSI RAWAS — Angka pengangguran dan kerentanan ekonomi perempuan di Desa Sukakarya tidak lagi menjadi cerita dominan. KWT Melati yang digagas Suhartini sejak 2021 berhasil membalik keadaan dengan menyulap buah pinang yang sempat dianggap remeh menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.
Sebelumnya, warga hanya menjual pinang ke tengkulak dengan harga Rp 4.000 per kilogram (kg), bahkan banyak yang menebang pohonnya untuk kayu bakar. Kini, produk olahan KWT Melati seperti kopi pinang, bandrek, hingga permen pinang menembus pasar lintas daerah.
Dari Lahan 15 Hektare, Produksi Capai 900 Kg per Bulan
Suhartini dan kelompoknya mengelola hamparan lahan seluas 15 hektare untuk menghasilkan sekitar 900 kg pinang kering dan 200-300 kg pinang muda setiap bulannya. Daun pinang pun tidak disia-siakan, diolah menjadi pewarna eco-print yang bernilai estetik.
Keberhasilan ini berawal dari pelatihan pertanian dan kewirausahaan yang diikuti Suhartini di Lahat pada 2018. Sekembalinya ke desa, ia merangkul 15 perempuan untuk memulai budidaya jahe dalam polybag sebagai langkah awal, sebelum akhirnya fokus menggarap potensi pinang.
Mengapa Pinang? Harga Jual Naik Lebih dari 4 Kali Lipat
Potensi ekonomi pinang sangat timpang dibandingkan komoditas lain. Harga di tingkat tengkulak hanya Rp 4.000 per kg, sementara harga pasar global mencapai Rp 19.000 per kg. Program Gerakan Perempuan Lestarikan Alam Melalui Konservasi Pinang (GEMILANG) dari PT Pertamina EP (PEP) Pendopo Field menjadi titik balik pengolahan buah ini.
Melalui pendampingan teknis pertanian dan diversifikasi produk, para anggota KWT Melati kini mendapatkan upah produksi Rp 12.500 per kg. Kas kelompok pun berputar sehat untuk pinjaman lunak modal pribadi, mulai dari biaya sekolah anak hingga hajatan keluarga.
Dampak Sosial: Perempuan Tak Lagi Jadi Penerima Belas Kasihan
Keberadaan KWT Melati mengubah posisi tawar perempuan di Desa Sukakarya. Dari total 1.842 penduduk usia produktif, 847 orang tercatat tidak bekerja, dan 69 persen di antaranya adalah perempuan rentan secara sosial dan ekonomi.
"Perempuan di Desa Sukakarya sekarang dipandang sebagai orang-orang yang berkemampuan, bukan lagi sebagai penerima belas kasihan. Kami membantu ekonomi keluarga dan desa melalui kemampuan kami mengolah potensi pinang dan tanaman herbal lainnya," ujar Suhartini.
Kerja keras Suhartini membuahkan penghargaan. Ia dinobatkan sebagai salah satu dari 20 penerima Local Heroes Inspiration Award 2024 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). KWT Melati juga kerap menjadi langganan pameran regional hingga internasional.
Komitmen Pertamina dan Rencana Ke Depan
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa kisah Suhartini adalah bukti perempuan mampu menjadi motor kemajuan jika diberi ruang setara. "Perusahaan, melalui program GEMILANG di PEP Pendopo Field, akan terus berkomitmen merawat ruang-ruang pemberdayaan tersebut agar lahir inspirasi-inspirasi baru di bumi pertiwi," kata dia.
Suhartini tidak berhenti di titik ini. Ia aktif membagikan ilmu kepada generasi muda dan kelompok tani lain di Musi Rawas agar semangat kemandirian terus menjalar. "Saya ingin semua perempuan percaya bahwa perempuan bukan kelas kedua. Kami perempuan dan kami bisa memberi dampak baik bagi sekitar," tegasnya.