PALEMBANG — Sebanyak 16 pertunjukan dari delapan kelompok penampil memenuhi panggung Resital Tari Bedana dan Lenggang Zapin Palembang yang digelar Sanggar Musi. Acara berlangsung di Palembang, Selasa (16/6/2026), dan dihadiri tamu undangan serta masyarakat umum.
Resital ini bukan sekadar pertunjukan seni. Sanggar Musi sengaja mengangkat Tari Bedana Palembang yang kini mulai jarang dipentaskan, khususnya di kalangan remaja. Lenggang Zapin Palembang, yang merupakan tari kreasi daerah berbasis budaya Melayu, juga ditampilkan dalam kemasan yang tetap berpijak pada nilai tradisi.
Ketua Panitia sekaligus budayawan dan akademisi seni, Heriyandi, S.Pd., M.Sn., mengatakan bahwa regenerasi penari tradisional menjadi tantangan utama. "Kegiatan ini merupakan langkah nyata kami untuk menjaga eksistensi Tari Bedana dan Lenggang Zapin agar tetap hidup di tengah generasi muda Palembang," ujarnya.
Menurut Heriyandi, arus budaya modern kerap membuat generasi muda enggan mempelajari tari tradisional. Padahal, kedua tarian ini memiliki akar kuat dalam tradisi Melayu Palembang.
Heriyandi menegaskan bahwa seni tari tradisional tetap relevan. "Kami ingin menunjukkan bahwa tari tradisional Palembang memiliki daya tarik kuat yang tidak kalah dengan tren modern saat ini," katanya.
Ia menambahkan, resital ini menjadi ruang apresiasi bagi para penari yang selama ini konsisten melestarikan budaya lokal. Penampil yang tampil berasal dari berbagai sanggar dan komunitas tari di Palembang.
Resital Tari Bedana dan Lenggang Zapin Palembang ini merupakan bagian dari program rutin Sanggar Musi. Ke depan, sanggar berencana menggelar kegiatan serupa secara berkala untuk memperluas jangkauan edukasi seni ke sekolah-sekolah dan komunitas.
Dengan hadirnya 16 pertunjukan dalam satu hari, Sanggar Musi berharap masyarakat Palembang, terutama generasi muda, kembali tertarik mengenal dan melestarikan warisan budaya daerah yang nyaris dilupakan.