PALEMBANG — Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penyakit Tuberkulosis (TBC) yang masih menjadi ancaman serius di provinsi ini. Kepala Dinkes Sumsel Trisnawarman menegaskan penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis itu memiliki risiko kematian yang cukup tinggi apabila penderita tidak menjalani pengobatan hingga sembuh.
"Kalau memang tidak diobati, risiko kematiannya cukup tinggi. Namun yang paling penting adalah penderita harus diobati sampai sembuh, karena kalau tidak diobati dia akan menjadi sumber penularan dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi," ujarnya Kamis (11/6/2026).
Trisnawarman menjelaskan bahwa TBC merupakan penyakit menular, bukan penyakit keturunan. Bakteri penyebabnya menyebar melalui udara, terutama di lingkungan yang memiliki sirkulasi udara buruk dan ventilasi yang tidak memadai.
"Karena bakteri. Human TB itu mycobacterium tuberculosis namanya. Bukan keturunan, sifatnya menular. Kemudian lingkungan-lingkungan udara yang tidak ada ventilasi, dia mudah sekali menular," jelasnya.
Ia menambahkan, bakteri penyebab TBC dapat bertahan cukup lama pada kondisi lingkungan tertentu. "Di tempat udara terbuka dan suhu di bawah 100 derajat Celsius, dia bisa bertahan lama, bertahun-tahun," ungkapnya.
Dinkes Sumsel mendorong warga untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan. Kebersihan lingkungan rumah tangga, penggunaan masker saat sakit, serta pemeriksaan terhadap anggota keluarga yang kontak erat dengan penderita menjadi kunci memutus rantai penularan.
"Pencegahannya yang jelas, siapa yang terkena kasus itu harus diobati sampai sembuh. Kemudian keluarga yang terkena itu harus dicek, diperiksa juga. Karena memang dia positif, kita obati. Kalau tidak, dia akan diberikan pencegahan, kasih obat untuk pencegahan," kata Trisnawarman.
Trisnawarman menekankan bahwa kepatuhan mengonsumsi obat menjadi faktor utama dalam keberhasilan pengobatan TBC. Pasien harus menjalani terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan selama kurang lebih enam bulan.
"Kemudian juga kepatuhan makan obat. Yang terkena penyakit TB ini harus minum obat lebih kurang enam bulan," tegasnya.
Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala batuk berkepanjangan. Warga yang mengalami batuk lebih dari dua minggu disarankan segera memeriksakan diri ke puskesmas, rumah sakit, atau klinik terdekat untuk memastikan penyebabnya.
"Kepada keluarga, sahabat, atau masyarakat yang batuk-batuk lebih dari dua minggu, segera periksakan ke puskesmas, rumah sakit, atau klinik terdekat. Jadi dia tahu apakah TB atau tidak. Dan juga makanan bergizi, hidup sehat, olahraga teratur, serta menjaga kesehatan keluarga," pungkas Trisnawarman.