Blackout Sumatera Terkuak: Fenomena Power Swing Akibat Cuaca Ekstrem, 5 Provinsi Gelap Gulita

Penulis: Faisal Zuber  •  Senin, 25 Mei 2026 | 19:56:23 WIB
Blackout besar melanda lima provinsi di Sumatera akibat fenomena power swing yang dipicu cuaca ekstrem.

JAKARTA — PT PLN (Persero) akhirnya membeberkan kronologi lengkap di balik padamnya total atau blackout yang melumpuhkan sebagian besar Pulau Sumatera pada Jumat pekan lalu. Direktur Transmisi PLN, Edwin Nugraha Putra, mengungkapkan bahwa peristiwa ini bukan sekadar gangguan biasa, melainkan rangkaian kegagalan sistem yang dipicu oleh fenomena osilasi tegangan tinggi atau power swing.

Dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026), Edwin menyampaikan permohonan maaf kepada jutaan warga yang terdampak. Wilayah yang mengalami pemadaman meliputi Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh.

Pemicu Utama: Hujan Lebat dan Angin Kencang di Jambi

Edwin menjelaskan bahwa sistem kelistrikan Sumatera ditopang oleh dua jalur raksasa: Jalur Timur (500 kV) dan Jalur Barat (275 kV). Gangguan pertama terjadi di Jalur Timur, tepatnya pada transmisi 275 kV New Aur Duri menuju Sumsel 5.

"Terjadi gangguan pada transmisi 275 kV New Aur Duri ke arah Sumsel 5. Akibat hujan lebat dan angin kencang, kedua sirkuitnya trip sehingga jalur 500 kV keluar dari sistem," jelas Edwin dalam paparannya.

Putusnya Jalur Timur ini menjadi awal dari bencana kelistrikan. Aliran listrik dari selatan (Palembang-Lampung) yang tadinya mengalir mulus, tiba-tiba berbalik arah dan membanjiri Jalur Barat secara masif.

Apa Itu Power Swing dan Mengapa Mematikan?

Perpindahan arus secara tiba-tiba dalam jumlah besar itulah yang memicu fenomena power swing. Edwin mengibaratkannya seperti air yang tiba-tiba dialihkan ke satu selang kecil, tekanan dan osilasinya menjadi sangat tinggi.

"Perpindahan arus tadi tersebut, itu menyebabkan fenomena yang kami sebut power swing, atau biasanya kita kenal dengan osilasi. Jadi tegangan maupun frekuensi berosilasi sangat tinggi pada saat itu," ujarnya.

Sistem proteksi otomatis pada Jalur Barat pun bereaksi. Gardu induk di Muara Bungo ke Sungai Rumbai terpaksa memutuskan diri (trip) untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Akibatnya, sistem Sumatera terbelah dua.

Wilayah Utara Kolaps, Wilayah Selatan Aman

Pemisahan ini membuat nasib dua wilayah sangat berbeda. Wilayah selatan (Lampung dan Palembang) tetap menyala karena memiliki pasokan pembangkit yang cukup. Namun, wilayah utara (Jambi hingga Aceh) mengalami defisit pasokan yang parah.

"Apa yang terjadi di daerah utara adalah di sana kekurangan dari pembangkit, frekuensinya rendah. Karena frekuensi rendah, pembangkit-pembangkit ada yang tidak tahan, kemudian trip, lalu terjadi domino effect," terang Edwin.

Efek domino ini menyebabkan semua pembangkit di utara padam satu per satu, meninggalkan jutaan pelanggan dalam kegelapan. Proses pemulihan pun tidak instan. Pembangkit diesel dan gas (black start) bisa menyala dalam 3-5 jam, namun PLTU butuh waktu 20 hingga 30 jam untuk sinkron kembali.

Langkah Antisipasi: Inspeksi Ganda dengan Infrared

Untuk mencegah kejadian serupa, PLN akan memperketat pengawasan infrastruktur transmisi. Edwin mengungkapkan pihaknya akan melakukan inspeksi ganda pada titik-titik sambungan kabel yang rawan menggunakan kamera infrared.

"Kami menggunakan infrared untuk melihat apakah sambungan kabel mulai panas berlebih atau tidak. Jika ditemukan kenaikan suhu 10 hingga 15 derajat di atas normal, kami langsung lakukan pemeliharaan khusus," imbuhnya.

PLN memastikan pada hari ini seluruh pembangkit besar, seperti di Pangkalan Susu, sudah masuk sistem dan tidak ada lagi pemadaman di Sumatera.

Berapa Lama Waktu Pemulihan Blackout Sumatera?

Waktu pemulihan bervariasi tergantung jenis pembangkit. Pembangkit diesel dan gas yang memiliki kemampuan black start dapat menyala dalam 3-5 jam. Sementara itu, PLTU membutuhkan proses lebih lama, yaitu 20 hingga 30 jam untuk bisa sinkron kembali dengan sistem kelistrikan Sumatera.

Apa yang Menyebabkan Sistem Proteksi PLN Gagal?

Sistem proteksi justru bekerja sesuai desain untuk mencegah kerusakan lebih luas. Ketika power swing terjadi, jalur 275 kV di Muara Bungo-Sungai Rumbai mengisolasi diri. Namun, pemisahan ini menyebabkan ketidakseimbangan pasokan di wilayah utara yang akhirnya memicu pemadaman total.

Reporter: Faisal Zuber
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top