China Kirim Bantuan Beras Terbesar ke Kuba, Blokade AS Makin Perparah Krisis Energi

Penulis: Rizal Hamdani  •  Senin, 25 Mei 2026 | 18:38:02 WIB
Duta Besar China serahkan bantuan beras terbesar untuk mendukung Kuba hadapi krisis ekonomi.

SUMATERA SELATAN — Duta Besar China untuk Kuba, Hua Xin, mengonfirmasi pengiriman bantuan beras tersebut merupakan yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Bantuan ini menjadi bagian dari paket darurat Beijing untuk membantu Havana menghadapi krisis ekonomi yang memburuk.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyebut bantuan itu sebagai "gestur solidaritas mulia" yang akan menjangkau jutaan warga di seluruh provinsi, termasuk institusi kesehatan dan pendidikan. "Hubungan persahabatan dan kerja sama antara Havana dan Beijing justru menguat pada masa-masa krusial," ujarnya.

64 Persen Wilayah Padam, Sistem Energi Kolaps

Krisis energi Kuba mencapai titik nadir pekan lalu. Data perusahaan listrik negara menunjukkan hingga 64 persen wilayah mengalami pemadaman secara bersamaan pada Minggu. Di Havana, pemadaman listrik berlangsung lebih dari 22 jam.

Pemerintah Kuba mengakui kondisi sektor energi berada dalam situasi "akut", "kritis", dan "sangat tegang". Rekor terburuk terjadi ketika 70 persen wilayah negara itu padam pada jam konsumsi listrik puncak.

Blokade Minyak AS: Dari Venezuela ke Havana

Krisis ini dipicu oleh kebijakan Washington yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu. Langkah itu menghentikan pasokan minyak Caracas ke Havana yang selama ini menjadi penopang utama energi Kuba.

Kuba membutuhkan sekitar 100 ribu barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan energinya. Namun produksi domestik hanya mampu memasok sekitar 40 ribu barel. Sejumlah studi independen memperkirakan Kuba memerlukan dana antara US$8 miliar hingga US$10 miliar untuk memulihkan sistem energinya.

Pemerintah Kuba menuding embargo minyak AS, yang melengkapi embargo dagang sejak 1962, sebagai penyebab utama kolapsnya sistem energi nasional. Havana menilai kebijakan Washington itu sebagai upaya "mencekik" perekonomian Kuba.

Tekanan Politik dan Bayang-Bayang Intervensi Militer

Di tengah krisis, pemerintahan Donald Trump terus meningkatkan tekanan politik terhadap Havana. Kelompok garis keras Kuba-Amerika di Florida selama puluhan tahun mendorong perubahan rezim di Havana.

Namun, menurut Orlando Perez, pakar hubungan Amerika Latin dari University of North Texas, menggulingkan pemerintahan Diaz-Canel tidak akan semudah operasi terhadap Venezuela. "Aparat keamanan Kuba selama bertahun-tahun telah membongkar hampir semua potensi kekuatan oposisi alternatif," katanya.

Perez menilai militer Kuba lebih solid secara ideologis dibandingkan Venezuela dan lebih siap menghadapi kemungkinan intervensi asing. Havana dianggap memiliki kemampuan pengawasan dan intelijen yang lebih maju berkat kerja sama panjang dengan Uni Soviet dan China.

Raul Castro Muncul, Dakwaan AS Kembali Mengemuka

Sorotan tertuju pada mantan Presiden Raul Castro. Tokoh revolusi berusia 94 tahun itu terakhir muncul di depan publik pada peringatan Hari Buruh Internasional, 1 Mei lalu, di kawasan pesisir Havana. Di bawah terik matahari, dia berdiri tegak di tengah puluhan ribu massa.

Nama Castro kembali menjadi perhatian setelah jaksa federal AS mengumumkan dakwaan terhadap dirinya terkait insiden penembakan dua pesawat sipil milik kelompok pengasingan Kuba pada 1996. Empat warga AS tewas dalam peristiwa tersebut. Jaksa Agung sementara AS Todd Blanche mengatakan Washington berharap Castro "akan muncul di sini, atas kehendaknya sendiri atau dengan cara lain". Pernyataan itu memicu kembali kekhawatiran kemungkinan intervensi militer AS ke Kuba.

Reporter: Rizal Hamdani
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top