MUARA ENIM — Di ruang pertemuan kawasan industri PT Tanjung Enim Lestari (TEL), Selasa lalu, para ulama dan jajaran manajemen perusahaan duduk bersama. Mereka tidak membahas angka produksi, melainkan bagaimana nilai-nilai agama berjalan seirama dengan dunia industri modern.
Pertemuan itu menghasilkan sejumlah program konkret yang menyasar kebutuhan spiritual sekaligus ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Dewan Pertimbangan MUI Muara Enim, H Taufik Rahman, menyebut MUI memiliki tanggung jawab menjaga harmoni sosial dan membina kehidupan keagamaan. “Dakwah tidak cukup hanya di mimbar, tetapi juga harus hadir memberi manfaat nyata bagi umat,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Rabu (19/2/2025).
Ketua Umum MUI Muara Enim, Dr KH Solihan, mengibaratkan sinergi ini seperti sapu lidi. “Satu lidi mudah dipatahkan. Tetapi jika disatukan, ia menjadi kuat. MUI ingin menjadi perekat kebersamaan itu,” katanya.
Diskusi juga menyentuh tema fikih kontemporer yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu yang menjadi perhatian adalah persoalan kehalalan jasa laundry. Menurut Solihan, pakaian yang dipakai untuk salat tidak hanya harus bersih, tetapi juga suci. Proses pencucian, bahan pembersih, hingga tata cara pengelolaannya perlu dikaji secara fikih.
“Sekarang masyarakat banyak menggunakan laundry. Maka kita perlu memastikan prosesnya juga memenuhi syarat kesucian dalam Islam,” jelasnya.
Gagasan itu mendapat sambutan serius dari pihak perusahaan. HR & CA Director PT TEL, Mochamad Amrodji, mengakui bahwa teknologi secanggih apa pun tidak bisa menggantikan kebutuhan manusia terhadap nilai-nilai agama.
“Kami berharap ada penguatan pengetahuan agama, baik di lingkungan perusahaan maupun masyarakat sekitar,” ujarnya.
Pembahasan lain yang mengemuka adalah budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Anggota Dewan Pertimbangan MUI Muara Enim, KH Taufik Hidayat, yang juga pendiri Pondok Pesantren Laa Roiba, menilai aturan teknis saja tidak cukup.
“Orang yang bekerja dengan kesadaran bahwa pekerjaannya adalah amanah, akan lebih berhati-hati dan bertanggung jawab,” katanya.
Pandangan ini menggeser sudut pandang K3 dari sekadar prosedur menjadi kesadaran spiritual. Manusia, menurutnya, tetap menjadi pusat utama yang harus dijaga—bukan hanya keselamatan fisiknya, tetapi juga jiwanya.
PT TEL membuka peluang kerja sama lebih luas dengan MUI. Beberapa program yang akan dijalankan meliputi:
Audiensi ditutup dengan komitmen memperkuat kolaborasi di bidang dakwah, pendidikan umat, dan ekonomi syariah. Di luar gedung, aktivitas industri terus berjalan. Namun gagasan yang lahir dari pertemuan itu sederhana: dakwah dan industri tidak harus saling berjauhan.