Semangat gotong royong itu terlihat jelas di lokasi rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang menjadi sasaran fisik program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0405/Lahat. Warga dengan teliti memotong belahan keramik menggunakan gerinda, memastikan ukurannya presisi agar hasil pemasangan rapi dan kuat.
Kehadiran warga di lokasi pengerjaan bukan sekadar formalitas. Mereka ikut mengukur, memotong, hingga memasang material bangunan. Keterlibatan ini mempercepat proses rehab yang sebelumnya hanya dikerjakan personel satgas TNI.
“Kami senang bisa ikut. Rumah ini untuk warga kami juga, jadi rasanya kurang pas kalau hanya diam,” ujar salah satu warga di lokasi, menggambarkan antusiasme yang menyebar dari rumah ke rumah.
Program Rehab RTLH pada TMMD ke-128 ini menyasar rumah-rumah yang kondisinya sudah tidak memenuhi standar kelayakan. Dinding retak, atap bocor, dan lantai tanah menjadi pemandangan umum sebelum direhab.
Setelah program selesai, penerima bantuan diharapkan menempati rumah yang lebih nyaman, aman dari cuaca ekstrem, dan sehat secara sanitasi. Personel TNI bersama warga mengejar target penyelesaian agar rumah bisa segera dihuni.
Di luar aspek fisik, program ini juga memperkuat kohesi sosial. Warga yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing, kini punya alasan untuk berkumpul dan bekerja bersama. Personel Satgas TMMD menyebut semangat ini menjadi modal penting percepatan pembangunan desa.
“Kami tidak hanya membangun tembok, tapi juga kebersamaan. Ini yang membuat program TMMD beda dari proyek pembangunan biasa,” kata perwakilan Satgas TMMD Kodim 0405/Lahat.
Tanpa keterlibatan warga, pengerjaan rehab rumah bisa molor. Material yang sudah tersedia di lokasi membutuhkan tenaga tambahan agar pemasangan keramik, plester dinding, dan pengecoran lantai selesai tepat waktu. Di sinilah peran warga menjadi krusial.
Program TMMD ke-128 sendiri merupakan agenda rutin TNI yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat pedesaan melalui pembangunan infrastruktur dasar.
Di Desa Lubuk Tampang, program ini membuktikan bahwa pembangunan bukan hanya soal anggaran dan material, tetapi juga soal semangat saling bantu yang masih hidup di tengah masyarakat.