Haru dan Khidmat di Sumsel Bermunajat HUT ke-80, Kiai Hendra Bacakan Sajak “Sumatera Selatan yang Keramat”

Penulis: Zulkarnain Hamid  •  Rabu, 13 Mei 2026 | 13:05:57 WIB
Kiai Hendra membacakan sajak “Sumatera Selatan yang Keramat” dalam peringatan HUT ke-80 Sumsel.

PALEMBANG — Sajak yang dibacakan Kiai Hendra itu menggambarkan Sumsel bukan sekadar wilayah yang kaya sumber daya alam, melainkan tanah yang sarat sejarah, keberkahan, dan jejak spiritual para ulama serta leluhur. Dengan intonasi tennamun penuh penekanan, ia menyebut Sumsel sebagai tanah yang “kramat”—tempat lahirnya tokoh besar dan peradaban yang tak lekang oleh waktu.

Doa untuk Proyek Strategis Nasional

Sumsel Bermunajat yang digelar PWNU Sumsel ini turut dihadiri Gubernur Sumsel, tokoh agama, santri, unsur pemerintah daerah, serta masyarakat dari berbagai kabupaten/kota. Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika doa bersama dipanjatkan untuk kelancaran Proyek Strategis Nasional Pelabuhan Tanjung Carat yang dinilai vital bagi perekonomian daerah.

Dalam sajaknya, Kiai Hendra mengingatkan bahwa Sumsel adalah tanah Sriwijaya yang tidak hanya besar karena kekuasaan, tetapi karena peradabannya. “Karena leluhurnya mengajarkan bahwa pemimpin harus dekat dengan rakyat, bahwa ilmu harus memuliakan manusia, dan kekuatan harus dipakai untuk menjaga negeri,” demikian penggalan sajak yang dibacakannya.

“Sumsel Bukan Tanah Biasa”

Sajak berjudul “Sumatera Selatan yang Keramat” itu ditulis langsung oleh Kiai Hendra pada ba’da Subuh di hari yang sama. Dalam larik-lariknya, ia bercerita tentang perjalanan panjang menyusuri desa-desa dan rumah panggung, mendengar kisah para tetua, hingga berziarah ke makam-makam shulton dan aulia.

“Dan semakin jauh langkah ini pergi, semakin aku percaya Sumatera Selatan bukanlah tanah biasa,” tulisnya dalam sajak tersebut. Ia menekankan bahwa jejak para ulama masih hidup, doanya masih terasa, dan keberkahannya masih mengalir di tanah Sumsel hingga kini.

Merawat Warisan di Usia 80 Tahun

Di penghujung sajak, Kiai Hendra berpesan agar peringatan hari jadi tidak sekadar merayakan usia, tetapi juga merawat warisan leluhur. “Tetaplah menjadi tanah yang kramat, tanah yang diberkahi, tanah yang melahirkan pemimpin-pemimpin bijak, dan masyarakat yang menjaga wibawah leluhurnya,” ujarnya.

Ia juga berharap Sumsel selalu diberkahi, pemimpinnya dilindungi, adat budayanya dilestarikan, dan negerinya dijauhkan dari perpecahan. “Karena kami percaya, selama doa para leluhur masih hidup di bumi ini, Sumatera Selatan akan selalu diberkahi,” tutup Kiai Hendra dalam sajak yang ditulisnya di atas sajadah, Pesantren Aulia Cendekia.

Reporter: Zulkarnain Hamid
Sumber: sumselindependen.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top