PALEMBANG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Sumatera Selatan. Meski saat ini mulai memasuki periode pancaroba, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih membayangi 11 daerah.
Prakiraan cuaca untuk Selasa, 5 Mei, menunjukkan adanya akumulasi awan konvektif yang signifikan di atmosfer regional. Kondisi tersebut memicu terjadinya hujan lebat yang seringkali disertai kilat serta tiupan angin kencang dengan durasi singkat namun merusak.
BMKG mengidentifikasi 11 wilayah kabupaten dan kota yang masuk dalam zona waspada. Masyarakat di daerah tersebut diminta mengantisipasi dampak sekunder seperti pohon tumbang, papan reklame roboh, hingga genangan air yang muncul akibat drainase yang tidak mampu menampung debit air hujan.
Fenomena ini terjadi karena wilayah Sumatera Selatan sedang berada pada masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau. Karakteristik cuaca pada periode pancaroba cenderung tidak stabil dan sulit diprediksi secara jangka panjang.
Suhu udara yang cukup terik pada pagi hingga siang hari memicu penguapan tinggi, yang kemudian membentuk awan Cumulonimbus (Cb) pada sore hari. Awan inilah yang menjadi penyebab utama hujan badai dan angin kencang yang terjadi secara lokal di beberapa titik di Sumsel.
Pihak BMKG terus memperbarui data radar cuaca untuk memantau pergerakan awan di seluruh wilayah Sumatera Selatan. Warga diimbau untuk rutin memantau informasi cuaca resmi sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan banjir dan tanah longsor.