Palembang — Kilang Plaju bukan sekadar fasilitas produksi minyak dan gas. Dalam operasionalnya di Plaju dan Sungai Gerong, instalasi ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang mengolah minyak mentah menjadi produk BBM, BBK, dan petrokimia untuk kebutuhan nasional.
Kilang Plaju dirancang dengan kapasitas produksi 120 ribu barel per hari, menyumbang sekitar 12% dari total kapasitas kilang Pertamina nasional. Posisi strategis ini menjadi kunci distribusi energi di kawasan Sumatera Bagian Selatan dan sumber pasokan utama bagi jaringan Integrated Terminal di Palembang.
General Manager RU III PT Pertamina Patra Niaga, Khabibullah Khanafie, mengungkapkan kontribusi finansial kilang ini bagi pendapatan daerah dalam Forum Bisnis Daerah (Forbisda) yang diselenggarakan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumatera Selatan pada Rabu (29/4/2026). Pembayaran pajak dan retribusi Kilang Plaju menjadi modal penting bagi pemerintah daerah mendanai infrastruktur dan layanan publik.
Efek ekonomi dari operasional kilang tercermin dalam penyerapan tenaga kerja. Saat ini Kilang Plaju memiliki 919 pekerja organik, didukung 409 tenaga kerja mitra dan lebih dari 1.000 tenaga kontrak, dengan mayoritas berasal dari warga asli Sumatera Selatan.
Komitmen terhadap ekonomi lokal diperkuat melalui keterlibatan 801 vendor lokal dari wilayah Sumatera Bagian Selatan dalam rantai pasok kilang. Strategi ini menunjukkan keberpihakan Pertamina pada penguatan pengusaha daerah dan distribusi manfaat ekonomi yang lebih luas.
Melalui pilar tanggung jawab sosial dan lingkungan, Kilang Plaju telah menyentuh kehidupan 4.500 jiwa penerima manfaat. Program unggulan seperti Mitra Binaan, Pengelolaan UMKM, dan Program Kampung Iklim Lestari menjadi bukti komitmen perusahaan menjaga keseimbangan antara profitabilitas operasional dengan tanggung jawab sosial.
Jangkauan distribusi Kilang Plaju meluas ke seluruh kawasan Sumatera Selatan dan sekitarnya. Dari terminal di Palembang (Kertapati dan Pulau Layang), pasokan kilang menjangkau Lubuk Linggau, Baturaja, Lahat, hingga melintasi provinsi ke Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung. Posisi ini mengukuhkan peran Kilang Plaju sebagai tulang punggung ketersediaan energi di kawasan timur Sumatera.