17 Kali Pimpin Upacara 17 Agustus, Herman Deru: Ini Bukan Puncak Kulminasi

Penulis: Zulkarnain Hamid  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 16:52:01 WIB
Herman Deru memimpin upacara peringatan detik-detik proklamasi di halaman Griya Agung, Palembang, Senin (17/8/2026).

PALEMBANG — Tangan kanan Herman Deru perlahan memberi hormat saat Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) membawa masuk Sang Saka Merah Putih. Di usianya yang terus menapaki pengabdian, Gubernur Sumatera Selatan itu kembali memimpin jalannya upacara peringatan detik-detik proklamasi di halaman Griya Agung, Senin (17/8/2026). Ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan kali ke-17 dirinya berdiri sebagai inspektur upacara sejak masih menjadi kepala daerah di tingkat kabupaten.

Perjalanan itu dimulai saat Herman Deru memimpin Kabupaten OKUT selama dua periode pada 2005 hingga 2010. Dalam rentang waktu tersebut, ia sepuluh kali memimpin upacara. Setelah itu, saat menjabat Gubernur Sumsel periode pertama 2018–2023, ia kembali dipercaya lima kali. Dua tahun terakhir, periode kedua kepemimpinannya, ia kembali memimpin upacara, termasuk pada tahun ini.

Spirit Menang dan Pesan untuk Generasi Muda

Di tengah rangkaian upacara yang berlangsung khidmat, Herman Deru menyampaikan refleksi yang jarang terungkap di forum resmi. Ia mengingatkan bahwa setiap pencapaian yang diraih saat ini bukanlah akhir dari perjuangan. "Ini bukan puncak kulminasi. Ini justru kita terus mendaki dan menyadari bahwa setiap perjuangan untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik tentu melalui pendakian," ujarnya.

Menurutnya, peringatan kemerdekaan adalah momentum evaluasi bagi generasi saat ini. Ia menekankan bahwa perjuangan mengisi kemerdekaan tidak cukup hanya dengan kerja keras, tetapi juga kebersamaan dan gotong royong. "Bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini agar para pahlawan tidak kecewa dengan generasi berikutnya. Spirit kita tetap spirit menang, spirit merdeka," kata Herman Deru.

Kepada generasi muda, Herman Deru berpesan agar kemerdekaan diisi dengan memperluas wawasan tanpa kehilangan karakter sebagai pejuang. "Generasi muda di zaman modern ini, isilah kemerdekaan dengan pengetahuan yang luas dan karakter yang tetap menjadi karakter pejuang. Kepada para pemuda, teruslah berani berkompetisi," pesannya.

Keberagaman sebagai Kekuatan Bangsa

Dalam kesempatan itu, Herman Deru juga menyoroti pentingnya menjaga keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Ia mencontohkan, keberagaman bisa diekspresikan melalui penggunaan pakaian atau kostum daerah dalam berbagai kegiatan peringatan kemerdekaan. Hal ini, menurutnya, menjadi cara sederhana namun bermakna untuk merawat persatuan Indonesia.

Upacara tahun ini turut dihadiri Wakil Gubernur Sumsel H. Cik Ujang serta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Ketua DPRD Provinsi Sumsel Andie Dinialdie bertugas membacakan naskah Undang-Undang Dasar 1945, sementara Letkol Inf. Ratno Edy Putra dari Batalyon 141/AYJP Brigif 8/Garuda Cakti bertindak sebagai komandan upacara.

Paskibraka dan Rangkaian Peringatan

Pengibaran bendera merah putih tahun ini dipercayakan kepada tiga pelajar terbaik Sumatera Selatan. Muhammad Frisky Fadly dari MAN 1 Lahat bertugas sebagai pengibar, Alfatih Putra dari SMAN 1 Ujanmas sebagai penggerek, dan M. Prince Farid Al-Qodri dari SMA Negeri 3 Palembang sebagai pembentang. Adapun pembawa baki bendera adalah Anastasya Shafina Sastradiredja, pelajar SMA IT Harapan Mulia.

Setelah upacara di halaman Griya Agung selesai, Herman Deru bersama Cik Ujang dan Forkopimda menyaksikan Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI secara virtual dari Aula Joglo Griya Agung. Rangkaian peringatan HUT ke-81 RI tahun ini sekaligus menjadi penanda konsistensi kepemimpinan Herman Deru dalam menjaga tradisi kebangsaan di tengah dinamika pembangunan daerah.

Reporter: Zulkarnain Hamid
Sumber: sumselupdate.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top