SUMATERA SELATAN — Jakarta — Proses penyederhanaan struktur organisasi di lingkungan Pertamina Subholding Upstream (SHU) tengah berjalan. Di tengah dinamika itu, Serikat Pekerja PT Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI) angkat bicara: restrukturisasi jangan sampai menggerus kapasitas bisnis inti pengeboran yang selama ini menjadi tulang punggung operasi hulu migas.
Ketua Umum SP PDSI, Rahmat Wijaya, menegaskan bahwa pengeboran adalah titik kritis dalam rantai bisnis hulu migas. Menurutnya, tanpa keandalan kegiatan pengeboran, keberlanjutan produksi migas dan ketahanan energi nasional akan sangat rentan.
“Transformasi organisasi merupakan kebutuhan agar perusahaan semakin adaptif. Namun, keberhasilan streamlining tidak boleh diukur sekadar dari berapa banyak struktur yang dikurangi atau organisasi yang dilebur, melainkan dari nilai tambah yang dihasilkan bagi Pertamina secara keseluruhan. Keputusan yang diambil harus berpijak pada rasionalitas bisnis, efisiensi operasional, dan keandalan jangka panjang,” ujar Rahmat dalam keterangannya, Selasa (18/2).
SP PDSI menilai penguatan PDSI sebagai konsolidator utama bisnis pengeboran di lingkungan Pertamina memiliki business case yang kuat. Saat ini, PDSI mengoperasikan 58 unit rig yang didukung standar HSSE teruji, kemampuan engineering, serta akumulasi kompetensi operasional selama puluhan tahun.
Rahmat menjelaskan, skala operasi sebesar itu memberikan economies of scale yang nyata bagi Pertamina. Keunggulannya mencakup efisiensi biaya operasional, optimalisasi utilisasi aset, standardisasi keselamatan kerja, hingga fleksibilitas mobilisasi rig di seluruh wilayah hulu migas Indonesia.
“Memperkuat dan mengkonsolidasikan fungsi pengeboran ke dalam satu wadah yang fokus seperti PDSI adalah bentuk efisiensi itu sendiri,” tegasnya.
Lebih jauh, SP PDSI menyoroti pentingnya memandang pekerja dan kompetensi pengeboran sebagai sumber keunggulan kompetitif, bukan sekadar komponen biaya. Pengalaman dan modal intelektual yang diwariskan para insan pengeboran Pertamina dari generasi ke generasi merupakan aset strategis bangsa yang harus dijaga.
Rahmat menekankan, perjuangan SP PDSI bukan sekadar membela nama atau struktur organisasi, melainkan menjaga keberlangsungan kompetensi pengeboran nasional. Menurutnya, memperkuat PDSI sebagai National Drilling Champion berarti memperkuat daya saing Pertamina dan memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga.
“Kami siap menjadi mitra strategis manajemen untuk mewujudkan transformasi yang objektif, profesional, dan memberikan nilai maksimal bagi negara,” tutup Rahmat.
Transformasi di tubuh SHU sendiri merupakan bagian dari agenda besar holding Pertamina untuk merampingkan lini bisnis agar lebih lincah dan adaptif terhadap dinamika industri energi global. Namun, SP PDSI mengingatkan bahwa efisiensi struktur tidak boleh mengorbankan kapabilitas teknis yang sudah terbangun lama di lini pengeboran.