SUMATERA SELATAN — Bayi Alena yang baru berusia 24 hari meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya untuk menurunkan demam. Kasus ini jadi pengingat keras bahwa bayi di bawah 6 bulan hanya boleh menerima ASI atau susu formula sesuai indikasi medis.
Alena sempat dirawat intensif di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, sebelum akhirnya meninggal. Informasi yang beredar menyebut bayi tersebut demam, lalu diduga diberi telur mentah oleh neneknya dengan harapan suhunya turun.
Hubungan langsung antara telur mentah dan kematian Alena belum bisa dipastikan tanpa hasil pemeriksaan medis. Meski begitu, dua dokter spesialis anak mengingatkan satu hal mendasar: bayi di bawah 6 bulan tidak boleh diberi makanan atau minuman apa pun selain ASI, atau susu formula jika memang ada indikasi medis.
Mengapa Bayi di Bawah 6 Bulan Belum Boleh Makan?
Spesialis anak dr Denta Satria Kurniawan, SpA, menegaskan bahwa bayi usia di bawah enam bulan belum siap menerima pisang, bubur, telur, madu, bahkan air putih. Sistem pencernaan dan kekebalan tubuhnya masih berkembang, sehingga makanan tambahan justru bisa memicu gangguan kesehatan.
Alasan lain yang sering diabaikan: pengalaman orang lain bukan patokan aman. "Ungkapan 'anakku dikasih pisang waktu baru lahir tetap hidup' tidak bisa dijadikan patokan, karena banyak bayi yang beruntung tidak mengalami akibat serius, tetapi risikonya nyata dan tidak bisa diprediksi, dan sebagian bayi menjadi sakit berat atau meninggal," kata dr Denta.
Risiko Telur Mentah untuk Bayi Baru Lahir
Telur mentah maupun setengah matang berpotensi mengandung bakteri Salmonella. Spesialis anak konsultan neonatologi Dr dr Johanes Edy Siswanto, SpA(K), menjelaskan infeksi bakteri ini bisa memicu muntah, diare, demam, hingga dehidrasi berat.
Pada kondisi tertentu, infeksi berkembang menjadi sepsis atau infeksi aliran darah yang mengancam nyawa. Bayi baru lahir paling rentan karena sistem kekebalan tubuhnya belum matang.
"Telur mentah maupun setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi, karena berisiko mengandung bakteri Salmonella. Infeksi dapat menyebabkan muntah, diare, demam, dehidrasi berat, bahkan infeksi aliran darah (sepsis) yang mengancam nyawa, terutama pada bayi baru lahir karena sistem kekebalan tubuhnya belum matang," papar dr Johanes.
Bahaya Memberi Makan Terlalu Dini
Selain infeksi, pemberian makanan terlalu dini dapat menimbulkan gangguan pencernaan, tersedak, aspirasi atau masuknya makanan ke saluran napas, hingga infeksi. Itu sebabnya dr Johanes menekankan bayi di bawah 6 bulan hanya boleh menerima ASI atau susu formula bayi yang sesuai bila diperlukan.
Telur sendiri sebenarnya sumber protein yang baik. Telur boleh diperkenalkan sebagai bahan MPASI ketika bayi siap makan, umumnya sekitar usia 6 bulan, dengan catatan harus dimasak hingga putih dan kuningnya benar-benar matang.
Kapan Harus Segera ke Dokter
Jika bayi terlanjur diberi makanan selain ASI dan muncul muntah berulang, diare, demam, sesak, sangat lemas, atau tidak mau menyusu, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan tunda.
Bayi baru lahir yang demam, terutama dengan suhu 38 derajat Celsius atau lebih, juga harus segera diperiksa dokter. Demam pada usia ini tidak boleh ditangani dengan makanan atau ramuan tradisional untuk menurunkan suhu tubuh.
dr Denta menyarankan orang tua berkonsultasi dengan dokter bila bayi rewel atau terus terlihat lapar, bukan memberi makanan tambahan atas inisiatif sendiri.
Jangan Jadikan Pengalaman Pribadi sebagai Patokan
dr Johanes mengingatkan agar masyarakat tidak menilai keamanan pemberian makanan terlalu dini dari pengalaman pribadi. "Bayi yang selamat bukan berarti praktik tersebut aman bagi semua bayi. Tidak semua tindakan berisiko langsung menimbulkan akibat buruk, tetapi ketika komplikasi terjadi, dampaknya bisa sangat serius," tuturnya.
Kasus Alena menunjukkan bahwa batas usia 6 bulan bukan aturan yang bisa ditawar. ASI atau susu formula sesuai indikasi medis tetap menjadi satu-satunya asupan yang aman bagi bayi baru lahir, dan setiap keluhan pada bayi sebaiknya dibawa ke dokter, bukan diatasi dengan makanan atau ramuan tradisional.